الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، أما بعد
Sesungguhnya amalan teragung yang hendaknya sangat diperhatikan oleh seorang Muslim, lebih khusus seorang penuntut ilmu, adalah amalan-amalan hati. Karena, hati adalah porosnya amalan badan. Oleh karena itulah, Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى
"Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niat-niat, dan seseorang hanyalah mendapatkan yang dia niatkan."
Dan, para ulama pun telah memberikan perhatian terhadap amalan-amalan hati. Mereka telah menulis berbagai karya tulis tentangnya. Maka, sudah selayaknya bagi seorang penuntut ilmu untuk melihat dan memperhatikan hatinya, karena sebagaimana sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:
إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب
"Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, dia adalah hati."
Maka, wajib bagi seorang penuntut ilmu –selalu dan selamanya– untuk memperhatikan hatinya, selalu menggantungkannya kepada Allâh –'Azza wa Jalla– dengan ikhlas, tawakal, rasa takut, harap,rahbah, raghbah, meminta pertolongan dan selainnya. Dan, hendaknya dia memenuhi hatinya dengan rasa khasy'yah (rasa takut terhadap Dzat yang diagungkan –pent). Hendaknya ilmunya mendorong dia untuk khasy'yah kepada Allâh –'Azza wa Jalla–, bertakwa kepada-Nya, berkeinginan kuat terhadap kebaikan, menjauh dari keburukan, bersegera mengamalkan kebaikan-kebaikan. Dan, hendaknya dia benar-benar waspada dari sifat kibr (sombong, menolak kebenaran dan meremehkan manusia –pent),'ujub (membanggakan diri), hasad, permusuhan, riyâ', sum'ah, dan berbagai amalan hati lain yang kerusakan dan bahayanya sangat besar terhadap seorang penuntut ilmu dalam perjalanan ilmiahnya.
Dan, hendaknya seorang penuntut ilmu memakmurkan hatinya dengan mengingat Allâh, senantiasa membiasakan lisannya untuk berdzikir kepada Allâh dalam seluruh waktu dan keadaannya. Allâh Ta'âlâ berfirman:
أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ketahuilah, dengan mengingat Allâh, hati-hati menjadi tenang."
Adapun berpaling dari dzikir, adalah sebab matinya hati, berdasarkan sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:
مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya, seperti orang yang hidup dan yang mati."
Dan, di antara hal yang hendaknya diperhatikan seorang penuntut ilmu untuk kebaikan hatinya adalah hendaknya hatinya selamat dari perasaan dengki, hasad, permusuhan, kebencian terhadap seseorang dari kaum Muslimîn. Kebersihan hati dari penyakit-penyakit ini adalah jalan untuk kebersihan hati.
Akhirnya, aku nasihatkan kepada saudaraku para penuntut ilmu, untuk berusaha sungguh-sungguh memperbaiki hati mereka dengan segala hal yang bisa mendekatkan mereka kepada Allâh dan menjauhkan dari apa yang Allâh –Subhânahu wa Ta'âlâ– haramkan.
Semoga Allâh memberi taufîq kepada semuanya, kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Dan, aku memohon kepada Allâh agar Dia memperbaiki hati-hati kita, amalan-amalan kita, dengan anugrah dan kemurahan-Nya.
…………………………………………………………………………………………………………………
[Diterjemahkan dari tulisan Syaikh Khâlid bin Alî al-Musyaiqih –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–
Sumber: