Selasa, 05 April 2011

Perhatikan Amalan Hati


♥ PERHATIKAN AMALAN HAT! ♥

(Oleh: Syaikh Khâlid bin Alî al-Musyaiqih)



الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، أما بعد

Sesungguhnya amalan teragung yang hendaknya sangat diperhatikan oleh seorang Muslim, lebih khusus seorang penuntut ilmu, adalah amalan-amalan hati. Karena, hati adalah porosnya amalan badan. Oleh karena itulah, Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:


إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

"Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niat-niat, dan seseorang hanyalah mendapatkan yang dia niatkan."

Dan, para ulama pun telah memberikan perhatian terhadap amalan-amalan hati. Mereka telah menulis berbagai karya tulis tentangnya. Maka, sudah selayaknya bagi seorang penuntut ilmu untuk melihat dan memperhatikan hatinya, karena sebagaimana sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:

إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب

"Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, dia adalah hati."

Maka, wajib bagi seorang penuntut ilmu –selalu dan selamanya– untuk memperhatikan hatinya, selalu menggantungkannya kepada Allâh –'Azza wa Jalla– dengan ikhlas, tawakal, rasa takut, harap,rahbahraghbah, meminta pertolongan dan selainnya. Dan, hendaknya dia memenuhi hatinya dengan rasa khasy'yah (rasa takut terhadap Dzat yang diagungkan –pent). Hendaknya ilmunya mendorong dia untuk khasy'yah kepada Allâh –'Azza wa Jalla–, bertakwa kepada-Nya, berkeinginan kuat terhadap kebaikan, menjauh dari keburukan, bersegera mengamalkan kebaikan-kebaikan. Dan, hendaknya dia benar-benar waspada dari sifat kibr (sombong, menolak kebenaran dan meremehkan manusia –pent),'ujub (membanggakan diri), hasad, permusuhan, riyâ', sum'ah, dan berbagai amalan hati lain yang kerusakan dan bahayanya sangat besar terhadap seorang penuntut ilmu dalam perjalanan ilmiahnya.
Dan, hendaknya seorang penuntut ilmu memakmurkan hatinya dengan mengingat Allâh, senantiasa membiasakan lisannya untuk berdzikir kepada Allâh dalam seluruh waktu dan keadaannya. Allâh Ta'âlâ berfirman:


أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah, dengan mengingat Allâh, hati-hati menjadi tenang."

Adapun berpaling dari dzikir, adalah sebab matinya hati, berdasarkan sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:

مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت

"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya, seperti orang yang hidup dan yang mati."

Dan, di antara hal yang hendaknya diperhatikan seorang penuntut ilmu untuk kebaikan hatinya adalah hendaknya hatinya selamat dari perasaan dengki, hasad, permusuhan, kebencian terhadap seseorang dari kaum Muslimîn. Kebersihan hati dari penyakit-penyakit ini adalah jalan untuk kebersihan hati.

Akhirnya, aku nasihatkan kepada saudaraku para penuntut ilmu, untuk berusaha sungguh-sungguh memperbaiki hati mereka dengan segala hal yang bisa mendekatkan mereka kepada Allâh dan menjauhkan dari apa yang Allâh –Subhânahu wa Ta'âlâ– haramkan.

Semoga Allâh memberi taufîq kepada semuanya, kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Dan, aku memohon kepada Allâh agar Dia memperbaiki hati-hati kita, amalan-amalan kita, dengan anugrah dan kemurahan-Nya.

…………………………………………………………………………………………………………………

[Diterjemahkan dari tulisan Syaikh Khâlid bin Alî al-Musyaiqih –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–

Sumber:

Manajemen Niat


Dua orang melakukan shalât, orang pertama meraih keridhâ'an Allâh sehingga dosa-dosanya gugur, sedangkan orang kedua mendapatkan kecelakaan dan kemurkaan Allâh karena nifak dan riyâ'nya. Ini merupakan contoh nyata tentang pentingnya niat dan mengikhlaskan niat di dalam seluruh amalan.

Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– sudah mengingatkan hal ini di dalam sabda beliau:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan." [HR. al-Bukhârî  (no. 1) & Muslim (no. 1907), dari Umar bin al-Khath'thâb]

Sesungguhnya suatu amal akan diterimanya di sisi Allâh jika memenuhi dua syarat, yaitu niat ikhlas dan mengikuti Sunnah. Oleh karena itu, Allâh akan melihat hati manusia, apakah ikhlas, dan melihat amalnya, apakah sesuai dengan tuntunan. Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allâh tidak melihat bentuk kamu dan harta kamu, tetapi Dia melihat hati kamu dan amal kamu." [HR. Muslim (no. 2564)]

Oleh karena itulah, mengikhlaskan niat merupakan perintah Allâh kepada seluruh manusia, sebagaimana firman-Nya:

"Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalât dan meunaikan zakât, dan yang demikian itulah agama yang lurus." [QS. 98: 5]


NIAT DALAM KEBAIKAN

Termasuk rahmat dan anugerah Allâh adalah bahwa Dia telah menulis kebaikan hamba hanya karena keinginan berbuat kebaikan. Sedangkan keinginan berbuat keburukan belum ditulis. Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– menjelaskan hal ini di dalam hadîts sebagai berikut:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

"Sesungguhnya Allâh menulis semua kebaikan dan keburukan. Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, Allâh menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia melakukannya, Allâh menulis pahala sepuluh kebaikan sampai 700 kali, sampai berkali lipat banyaknya. Barangsiapa berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia tidak melakukannya, Allâh menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia melakukannya, Allâh menulis satu keburukan saja." [HR. al-Bukhârî (no. 6491) & Muslim (no. 131)]


NIAT DALAM KEBURUKAN

Keinginan yang melintas di dalam hati untuk berbuat keburukan belum ditulis dosa oleh Allâh. Namun, jika keinginan itu sudah menjadi tekad dan niat, apalagi sudah diusahakan, walaupun tidak terjadi, maka pelakunya sudah mendapatkan balasan karenanya. Dalam hal ini Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

"Jika dua orang Muslim bertemu dengan pedang masing-masing (berkelahi; berperang), maka pembunuh dan orang yang terbunuh di dalam neraka." Aku (Abû Bakrah) bertanya, "Wahai Rasûlullâh, si pembunuh (kami memahami –pent), namun bagaimana dengan orang yang terbunuh?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya dia juga sangat ingin membunuh kawannya itu." [HR. al-Bukhârî (no. 31, 7083) & Muslim (no. 2888), dari Abû Bakrah]

Di dalam hadîts lain, Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam– memperingatkan bahaya niat buruk di dalam hubungan antar hamba. Beliau bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

"Siapa saja berhutang dengan niat tidak akan membayar hutang kepada pemiliknya, dia akan bertemu Allâh sebagai pencuri." [HR. Ibnu Majah (no. 2410). Syaikh al-Albânî berkata, "Hasan shahîh."]


PAHALA DAN SIKSA KARENA NIAT

Kedudukan niat yang sangat penting juga dapat dilihat dari akibat yang dihasilkannya. Yaitu, bahwa sekedar niat, seseorang sudah mendapatkan pahala atau siksa. Hal ini diberitakanoleh Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– di dalam hadîts berikut ini:

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dari Abû Kabsyah al-Anmarî –radhiyallâhu 'anhu–, bahwa dia mendengar Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

"Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang: Hamba yang Allâh berikan rizqi kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rizqi itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rizqinya, dan dia mengetahui hak bagi Allâh padanya. Maka, hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allâh). Hambayang Allâh berikan rizqi kepadanya berupa ilmu, namun Dia tidak memberikan rizqi berupa harta, dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan, 'Seandainya aku memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu).' Maka, dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama. Hamba yang Allâh berikan rizqi kepadanya berupa harta, namun Dia tidak memberikan rizqi kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allâh padanya. Maka, hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allâh). Hamba yang Allâh tidak memberikan rizqi kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan, 'Seandainya aku memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu).' Maka, dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama."

(Hadîts shahîh riwayat at-Tirmidzî (no. 2325)Ahmad (4/230-231, no. 17570)Ibnu Mâjah (no. 4228) dan lainnya. Di-shahîh-kan Syaikh al-Albânî di dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah(no. 3406) dan Syaikh Sâlim al-Hilalî di dalam Bahjatun Nazhirîn Syarh Riyâdhush Shâlihîn(1/607-609, no. 557). Lihat juga al-'Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 252-253)]

Semua keterangan ini menunjukkan pentingnya kedudukan niat. Oleh karena itu, seorang Muslim yang baik selalu membangun seluruh amalannya di atas niat yang baik, yaitu ikhlas karena Allâh. Demikian juga, seorang Muslim akan selalu berusaha beramal berdasarkan Sunnah Nabî, karena hal ini sebagai kelengkapan niat yang baik. Karena, semata-mata niat yang baik tidak bisa merubah kemaksiatan menjadi ketaatan. Seperti seseorang bershadaqah dengan uang curian atau korupsi.

Dan perlu diketahui, bahwa niat bukanlah kalimat yang diucapkan, namun tekad di dalam hati yang membangkitkan amalan.

Kesimpulannya, hendaklah kita selalu memiliki niat yang baik, ikhlas di dalam seluruh amalan, lahir dan batin, demikian juga amalan itu harus berdasarkan tuntunan Nabî Muhammad –shallallâhu 'alaihi wa sallam–. Al-Hamdu lillâhi Rabbil'âlamîn.

…………………………………………………………………………………………………………………

[Oleh: Ustâdz Abû Ismâ'îl Muslim al-Atsarî –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–]

Sumber:
Ayat RENUNGKANLAH


Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]

Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]

Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]

Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]

Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]

Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]

(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]

……………………………………………………………………

Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]

_______________________________________________________

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qurân? Kalau sekiranya al-Qurân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. an-Nisâ: 82]