Selasa, 05 Juli 2011

Bagaimana Jika Bacaan Imam Terlalu Cepat?

JIKA BACAAN IMAM TERLALU CEPAT


Tanya:

Saya pernah shalat Zhuhur dan Ashar di belakang imam yang sangat cepat bacaannya. Jika saya membaca Al-Fatihah dengan tartil, maka tidak akan sempurna sebelum imam ruku, dan bila saya memaksa untuk menyempurnakannya, maka membuat saya tidak tuma'ninah karena terlalu cepat membacanya. Apa yang seharusnya saya perbuat?


Jawab:

Jika demikian keadaan imamnya, maka boleh bagimu untuk membaca Al-Fatihah dengan cepat sepanjang tidak mengakibatkan salah dalam membaca, atau meninggalkan sebagian dari huruf-hurufnya atau yang semisalnya yang bisa merubah makna ayat. Dan bukan syarat dalam membaca Al-Fatihah harus dilafadzkan dengan lambat dan pelan, walaupun itu tentunya lebih afdhol, akan tetapi jika keadaan seperti yang digambarkan di atas, maka boleh baginya membacanya dengan cepat dan hal tersebut tidak menafikan tuma'ninah dalam sholat. Wallahu a'lam.


________________________________

Oleh: Ustâdz Abû Muawiah Hammad bin Amir حفظه الله
(www.Al-Atsariyyah.com/jika-bacaan-imam-terlalu-cepat.html)

Selasa, 05 April 2011

Perhatikan Amalan Hati


♥ PERHATIKAN AMALAN HAT! ♥

(Oleh: Syaikh Khâlid bin Alî al-Musyaiqih)



الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، أما بعد

Sesungguhnya amalan teragung yang hendaknya sangat diperhatikan oleh seorang Muslim, lebih khusus seorang penuntut ilmu, adalah amalan-amalan hati. Karena, hati adalah porosnya amalan badan. Oleh karena itulah, Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:


إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

"Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niat-niat, dan seseorang hanyalah mendapatkan yang dia niatkan."

Dan, para ulama pun telah memberikan perhatian terhadap amalan-amalan hati. Mereka telah menulis berbagai karya tulis tentangnya. Maka, sudah selayaknya bagi seorang penuntut ilmu untuk melihat dan memperhatikan hatinya, karena sebagaimana sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:

إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب

"Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, dia adalah hati."

Maka, wajib bagi seorang penuntut ilmu –selalu dan selamanya– untuk memperhatikan hatinya, selalu menggantungkannya kepada Allâh –'Azza wa Jalla– dengan ikhlas, tawakal, rasa takut, harap,rahbahraghbah, meminta pertolongan dan selainnya. Dan, hendaknya dia memenuhi hatinya dengan rasa khasy'yah (rasa takut terhadap Dzat yang diagungkan –pent). Hendaknya ilmunya mendorong dia untuk khasy'yah kepada Allâh –'Azza wa Jalla–, bertakwa kepada-Nya, berkeinginan kuat terhadap kebaikan, menjauh dari keburukan, bersegera mengamalkan kebaikan-kebaikan. Dan, hendaknya dia benar-benar waspada dari sifat kibr (sombong, menolak kebenaran dan meremehkan manusia –pent),'ujub (membanggakan diri), hasad, permusuhan, riyâ', sum'ah, dan berbagai amalan hati lain yang kerusakan dan bahayanya sangat besar terhadap seorang penuntut ilmu dalam perjalanan ilmiahnya.
Dan, hendaknya seorang penuntut ilmu memakmurkan hatinya dengan mengingat Allâh, senantiasa membiasakan lisannya untuk berdzikir kepada Allâh dalam seluruh waktu dan keadaannya. Allâh Ta'âlâ berfirman:


أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah, dengan mengingat Allâh, hati-hati menjadi tenang."

Adapun berpaling dari dzikir, adalah sebab matinya hati, berdasarkan sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:

مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت

"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya, seperti orang yang hidup dan yang mati."

Dan, di antara hal yang hendaknya diperhatikan seorang penuntut ilmu untuk kebaikan hatinya adalah hendaknya hatinya selamat dari perasaan dengki, hasad, permusuhan, kebencian terhadap seseorang dari kaum Muslimîn. Kebersihan hati dari penyakit-penyakit ini adalah jalan untuk kebersihan hati.

Akhirnya, aku nasihatkan kepada saudaraku para penuntut ilmu, untuk berusaha sungguh-sungguh memperbaiki hati mereka dengan segala hal yang bisa mendekatkan mereka kepada Allâh dan menjauhkan dari apa yang Allâh –Subhânahu wa Ta'âlâ– haramkan.

Semoga Allâh memberi taufîq kepada semuanya, kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Dan, aku memohon kepada Allâh agar Dia memperbaiki hati-hati kita, amalan-amalan kita, dengan anugrah dan kemurahan-Nya.

…………………………………………………………………………………………………………………

[Diterjemahkan dari tulisan Syaikh Khâlid bin Alî al-Musyaiqih –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–

Sumber:

Manajemen Niat


Dua orang melakukan shalât, orang pertama meraih keridhâ'an Allâh sehingga dosa-dosanya gugur, sedangkan orang kedua mendapatkan kecelakaan dan kemurkaan Allâh karena nifak dan riyâ'nya. Ini merupakan contoh nyata tentang pentingnya niat dan mengikhlaskan niat di dalam seluruh amalan.

Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– sudah mengingatkan hal ini di dalam sabda beliau:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan." [HR. al-Bukhârî  (no. 1) & Muslim (no. 1907), dari Umar bin al-Khath'thâb]

Sesungguhnya suatu amal akan diterimanya di sisi Allâh jika memenuhi dua syarat, yaitu niat ikhlas dan mengikuti Sunnah. Oleh karena itu, Allâh akan melihat hati manusia, apakah ikhlas, dan melihat amalnya, apakah sesuai dengan tuntunan. Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allâh tidak melihat bentuk kamu dan harta kamu, tetapi Dia melihat hati kamu dan amal kamu." [HR. Muslim (no. 2564)]

Oleh karena itulah, mengikhlaskan niat merupakan perintah Allâh kepada seluruh manusia, sebagaimana firman-Nya:

"Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalât dan meunaikan zakât, dan yang demikian itulah agama yang lurus." [QS. 98: 5]


NIAT DALAM KEBAIKAN

Termasuk rahmat dan anugerah Allâh adalah bahwa Dia telah menulis kebaikan hamba hanya karena keinginan berbuat kebaikan. Sedangkan keinginan berbuat keburukan belum ditulis. Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– menjelaskan hal ini di dalam hadîts sebagai berikut:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

"Sesungguhnya Allâh menulis semua kebaikan dan keburukan. Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, Allâh menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia melakukannya, Allâh menulis pahala sepuluh kebaikan sampai 700 kali, sampai berkali lipat banyaknya. Barangsiapa berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia tidak melakukannya, Allâh menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia melakukannya, Allâh menulis satu keburukan saja." [HR. al-Bukhârî (no. 6491) & Muslim (no. 131)]


NIAT DALAM KEBURUKAN

Keinginan yang melintas di dalam hati untuk berbuat keburukan belum ditulis dosa oleh Allâh. Namun, jika keinginan itu sudah menjadi tekad dan niat, apalagi sudah diusahakan, walaupun tidak terjadi, maka pelakunya sudah mendapatkan balasan karenanya. Dalam hal ini Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

"Jika dua orang Muslim bertemu dengan pedang masing-masing (berkelahi; berperang), maka pembunuh dan orang yang terbunuh di dalam neraka." Aku (Abû Bakrah) bertanya, "Wahai Rasûlullâh, si pembunuh (kami memahami –pent), namun bagaimana dengan orang yang terbunuh?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya dia juga sangat ingin membunuh kawannya itu." [HR. al-Bukhârî (no. 31, 7083) & Muslim (no. 2888), dari Abû Bakrah]

Di dalam hadîts lain, Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam– memperingatkan bahaya niat buruk di dalam hubungan antar hamba. Beliau bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

"Siapa saja berhutang dengan niat tidak akan membayar hutang kepada pemiliknya, dia akan bertemu Allâh sebagai pencuri." [HR. Ibnu Majah (no. 2410). Syaikh al-Albânî berkata, "Hasan shahîh."]


PAHALA DAN SIKSA KARENA NIAT

Kedudukan niat yang sangat penting juga dapat dilihat dari akibat yang dihasilkannya. Yaitu, bahwa sekedar niat, seseorang sudah mendapatkan pahala atau siksa. Hal ini diberitakanoleh Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– di dalam hadîts berikut ini:

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dari Abû Kabsyah al-Anmarî –radhiyallâhu 'anhu–, bahwa dia mendengar Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

"Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang: Hamba yang Allâh berikan rizqi kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rizqi itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rizqinya, dan dia mengetahui hak bagi Allâh padanya. Maka, hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allâh). Hambayang Allâh berikan rizqi kepadanya berupa ilmu, namun Dia tidak memberikan rizqi berupa harta, dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan, 'Seandainya aku memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu).' Maka, dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama. Hamba yang Allâh berikan rizqi kepadanya berupa harta, namun Dia tidak memberikan rizqi kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allâh padanya. Maka, hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allâh). Hamba yang Allâh tidak memberikan rizqi kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan, 'Seandainya aku memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu).' Maka, dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama."

(Hadîts shahîh riwayat at-Tirmidzî (no. 2325)Ahmad (4/230-231, no. 17570)Ibnu Mâjah (no. 4228) dan lainnya. Di-shahîh-kan Syaikh al-Albânî di dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah(no. 3406) dan Syaikh Sâlim al-Hilalî di dalam Bahjatun Nazhirîn Syarh Riyâdhush Shâlihîn(1/607-609, no. 557). Lihat juga al-'Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 252-253)]

Semua keterangan ini menunjukkan pentingnya kedudukan niat. Oleh karena itu, seorang Muslim yang baik selalu membangun seluruh amalannya di atas niat yang baik, yaitu ikhlas karena Allâh. Demikian juga, seorang Muslim akan selalu berusaha beramal berdasarkan Sunnah Nabî, karena hal ini sebagai kelengkapan niat yang baik. Karena, semata-mata niat yang baik tidak bisa merubah kemaksiatan menjadi ketaatan. Seperti seseorang bershadaqah dengan uang curian atau korupsi.

Dan perlu diketahui, bahwa niat bukanlah kalimat yang diucapkan, namun tekad di dalam hati yang membangkitkan amalan.

Kesimpulannya, hendaklah kita selalu memiliki niat yang baik, ikhlas di dalam seluruh amalan, lahir dan batin, demikian juga amalan itu harus berdasarkan tuntunan Nabî Muhammad –shallallâhu 'alaihi wa sallam–. Al-Hamdu lillâhi Rabbil'âlamîn.

…………………………………………………………………………………………………………………

[Oleh: Ustâdz Abû Ismâ'îl Muslim al-Atsarî –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–]

Sumber:

Jumat, 25 Februari 2011

Penyebab Kurangnya Rasa Syukur

SEBAB KURANGNYA RASA SYUKUR
(Oleh: Syaikh Abdullâh bin Shâlih bin Fauzân al-Fauzân)



Allâh menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa makhluk tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat-Nya kepada mereka. Allâh –'Azza min Qa'il– berkata (berfirman –nauf.):

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا

"Dan, seandainya kalian menghitung nikmat Allâh, kalian tidak akan (mampu) menghitungnya." [An-Nahl: 18]

Maknanya, mereka tidak akan mampu bersyukur atas nikmat-nikmat Allâh dengan cara yang dituntut. Karena, orang yang tidak mampu menghitung nikmat Allâh, bagaimana mungkin dia akan mensyukurinya?

Barangkali seorang hamba tidak dikatakan menyepelekan, jika dia mengerahkan segenap usahanya untuk bersyukur, dengan mewujudkan ubudiyah (penghambaan) kepada Allâh, Rabb semesta alam, sesuai dengan firman-Nya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Maka, bertakwalah kalian kepada Allâh menurut kemampuan kalian." [At-Taghâbun: 16]


Sikap meremehkan yang kami maksudkan adalah, jika seorang manusia senantiasa berada dalam nikmat Allâh, siang dan malam, ketika safar maupun mukim, ketika tidur maupun terjaga, kemudian muncul dari perkataan, perbuatan dan keyakinannya sesuatu yang tidak sesuai dengan sikap syukur sama sekali. Sikap peremehan inilah yang kita ingin mengetahui sebagian sebab-sebabnya. Kemudian, kita sampaikan obatnya dengan apa yang telah Allâh bukakan. Dan, taufiq hanyalah di tangan Allâh.


DI ANTARA SEBAB-SEBAB INI

Sebab Pertama, Lalai dari Nikmat Allâh

Sesungguhnya banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang besar, baik nikmat yang umum maupun khusus. Akan tetapi, dia lalai darinya. Dia tidak mengetahui bahwa dia hidup dalam kenikmatan. Itu, karena dia telah terbiasa dengannya, dan tumbuh berkembang padanya. Dan dalam hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan selain kenikmatan. Sehingga dia menyangka bahwa perkara (hidup) ini memang seperti itu saja. Seorang manusia, jika tidak mengenal dan merasakan kenikmatan, bagaimana mungkin dia mensyukurinya? Karena syukur, dibangun di atas pengetahuan terhadap nikmat, mengingatnya dan memahami bahwa itu adalah nikmat pemberian Allâh kepadanya.

Sebagian salaf (umat terdahulu –nauf.) berkata, "Nikmat dari Allâh untuk hamba-Nya adalah sesuatu yang majhulah (tidak diketahui). Jika nikmat itu hilang, barulah dia diketahui." [Rabî'ul Abrâr(4/325)]

Sesungguhnya banyak manusia di zaman kita ini senantiasa berada dalam kenikmatan Allâh, mereka memenuhi perut mereka dengan berbagai makanan dan minuman, memakai pakaian yang paling indah, bertutupkan selimut yang paling baik, menunggangi kendaraan yang paling bagus, kemudian mereka berlalu untuk urusan mereka tanpa mengingat-ingat nikmat dan tidak mengetahui hak bagi Allâh. Maka, mereka seperti binatang, mulutnya menyela-nyela tempat makanan, lalu jika telah kenyang, dia pun berlalu darinya. Dan, semacam ini pantas bagi binatang.

Jika kenikmatan telah menjadi banyak dengan mengalirnya kebaikan secara terus-menerus dan bermacam-macam, manusia akan lalai dari orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat itu. Dia menyangka bahwa orang lain seperti dia, sehingga tidak muncul rasa syukur kepada Pemberi nikmat. Oleh karena itu, Allâh memerintahkan hamba-Nya untuk mengingat-ingat nikmat-Nya atas mereka –sebagaimana telah dijelaskan–. Karena, mengingat-ingat nikmat akan mendorong seseorang untuk mensyukurinya. Allâh berfirman:

وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ

"Dan, ingatlah nikmat Allâh padamu, dan apa yang telah diturunkan Allâh kepadamu, yaitu al-Kitâb dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allâh memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu." [Al-Baqarah: 231]

Sebab Kedua, Kebodohan terhadap Hakikat Nikmat

Sebagian orang tidak mengetahui nikmat, tidak mengenal dan tidak memahami hakikat nikmat. Dia tidak tahu bahwa dirinya berada dalam kenikmatan, karena dia tidak mengetahui hakikat nikmat. Bahkan mungkin dia memandang pemberian nikmat Allâh kepadanya sangat sedikit sehingga tidak pantas untuk dikatakan sebagai kenikmatan. Maka, orang yang tidak mengetahui nikmat, bahkan bodoh terhadapnya, tidak akan bisa mensyukurinya.

Sesungguhnya ada sebagian manusia yang jika melihat suatu kenikmatan diberikan kepadanya dan juga kepada orang lain, bukan kekhususan untuknya, maka dia tidak bersyukur kepada Allâh. Karena, dia memandang dirinya tidak berada dalam suatu kenikmatan selama orang lain juga berada pada kenikmatan tersebut. Sehingga banyak orang yang berpaling dari mensyukuri nikmat Allâh yang sangat besar pada dirinya, yang berupa anggota badan dan indera, dan juga nikmat Allâh yang sangat besar pada alam semesta ini.

Ambilah sebagai contoh, nikmatnya penglihatan. Ini merupakan nikmat Allâh yang sangat agung yang banyak dilalaikan oleh manusia. Siapakah yang mengetahui kenikmatan ini, memperhatikan haknya dan menyukurinya? Alangkah sedikitnya mereka itu.

"Seandainya seseorang mengalami kebutaan, lalu Allâh mengembalikan penglihatannya dengan suatu sebab yang Allâh takdirkan, apakah dia akan memandang penglihatannya pada keadaan yang kedua ini, sebagaimana kelalaiannya terhadap yang pertama? Tentu tidak, karena dia telah mengetahui nilai kenikmatan ini setelah dia kehilangan nikmat tersebut. Maka, orang ini mungkin akan bersyukur kepada Allâh atas nikmat penglihatan ini, akan tetapi dengan cepat dia akan melupakannya. Dan, ini adalah puncak kebodohan, karena rasa syukurnya bergantung kepada hilang dan kembalinya nikmat tersebut. Padahal sesuatu (kenikmatan) yang langgeng lebih berhak disyukuri daripada (kenikmatan) yang kadang-kadang terputus." [Lihat Mukhtashar Minhâjil Qashidîn (hlm. 288)]

Sebab Ketiga, Pandangan Sebagian Manusia kepada Orang yang Berada di Atasnya

Jika seorang manusia melihat kepada orang yang diatasnya, yaitu orang-orang yang diberi kelebihan atasnya, dia akan meremehkan karunia yang Allâh berikan kepadanya. Sehingga, dia pun kurang dalam melaksanakan kewajiban syukur. Karena, dia melihat bahwa apa yang diberikan kepadanya adalah sedikit, sehingga dia meminta tambahan untuk bisa menyusul atau mendekati orang yang berada di atasnya. Dan, ini ada pada kebanyakan manusia. Hatinya sibuk dan badannya letih dalam berusaha untuk menyusul orang-orang yang telah diberi kelebihan atasnya berupa harta dunia. Sehingga keinginannya hanyalah untuk mengumpulkan dunia. Dia lalai dari bersyukur dan melaksanakan kewajiban ibadah, yang sebenarnya dia diciptakan untuk hal tersebut (ibadah).

Telah datang suatu hadîts, dari Abû Hurairah –radhiyallâhu 'anhu–, bahwa Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلىَ مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فيِ الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلىَ مَن هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

"Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan atasnya dalam masalah harta dan penciptaan, hendaknya dia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya, yang dia telah diberi kelebihan atasnya." [Riwayat Muslim (2963), dan lihat Jâmi'ul Ushûl (10/142)]

Sebab Keempat, Melupakan Masa Lalu

Di antara manusia ada yang pernah melewati kehidupan yang menyusahkan dan sempit. Dia hidup pada masa-masa yang menegangkan dan penuh rasa takut, baik dalam masalah harta, penghidupan atau tempat tinggal. Dan, tatkala Allâh memberikan kenikmatan dan karunia kepadanya, dia enggan untuk membandingkan antara masa lalunya dengan kehidupannya sekarang, agar menjadi jelas baginya karunia Rabb atasnya. Barangkali, hal itu akan membantunya untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu. Akan tetapi, dia telah tenggelam dalam nikmat-nikmat Allâh yang sekarang, dan telah melupakan keadaannya terdahulu. Oleh karena itu, engkau lihat banyak orang yang telah hidup dalam kemiskinan pada masa-masanya yang telah lalu, namun mereka kurang bersyukur dengan keadaan mereka yang engkau lihat sekarang ini.

Setiap manusia wajib untuk mengambil pelajaran dari kisah yang ada dalam hadîts shahîh (hadîts panjang dari Abû Hurairah):

"Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Banî Isrâîl, orang yang punya penyakit kusta, orang yang botak dan orang yang buta.." [Diriwayatkan oleh al-Bukhârî (3277) danMuslim (2946)]

(Yang maknanya), Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Banî Isrâîl yang ingin Allâh uji. Mereka adalah orang yang punya penyakit kusta, orang yang botak dan orang yang buta. Maka, ujian itu menampakkan hakikat mereka yang telah Allâh ketahui sebelum menciptakan mereka. Adapun orang yang buta, maka dia mengakui pemberian nikmat Allâh kepadanya, mengakui bahwa dahulu dia adalah seorang yang buta lagi miskin, lalu Allâh memberikan penglihatan dan kekayaan kepadanya. Dia pun memberikan apa yang diminta oleh pengemis, sebagai bentuk syukur kepada Allâh. Adapun orang yang botak dan orang yang berpenyakit kusta, mereka mengingkari kemiskinan dan buruknya keadaan mereka sebelum itu. Keduanya berkata tentang kekayaan itu, "Sesungguhnya aku mendapatkannya dari keturunan."

Inilah keadaan kebanyakan manusia. Tidak mengakui keadaannya terdahulu, berupa kekurangan, kebodohan, kemiskinan dan dosa-dosa, (tidak mengakui) bahwasanya Allâh-lah yang memindahkan dia dari keadaannya semula kepada kebalikannya, dan memberikan kenikmatan tersebut.




…………………………………………………………………………………………………………………

[Diterjemahkan dari makalah Syaikh Abdullâh bin Shâlih bin Fauzân al-Fauzân –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–, dengan judul التقصير في الشكر وأسبابه (sumber berbahasa arab: www.alFuzan.islamlight.net/index.php?option=content&task=view&id=2053&Itemid=47)]

Sumber:

Dua Kenikmatan yang Sering Dilupakan



Allâh Ta'âlâ telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.


Allâh berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allâh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allâh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. 16: 18]


NIKMAT SEHAT

Di antara kenikmatan Allâh yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya." [HR. Ibnu Mâjah (no. 4141) dan lain-lain. Di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albânî di dalam Shahîh al-Jâmi'ush Shaghîr (no. 5918)]

Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allâh Ta'âlâ.

Akan tetapi, kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.

Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang alim. Maka, orang alim itu berkata, "Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang alim itu berkata lagi, "Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang ‘alim itu berkata lagi, "Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang alim itu berkata lagi, "Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang alim itu berkata, "Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allâh) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu?" [Lihat Mukhtashar Minhâjul Qashidîn (hlm. 366)]



DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU

Oleh karena itulah, seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allâh yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadîts di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ خ 

Dari Ibnu Abbâs, dia berkata: Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda, "Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang." [HR. al-Bukhârî (no. 5933)]

Al-Hâfizh Ibnu Hajar –rahimahullâh– berkata, "Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain." [Fat'hul Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî (penjelasan hadîts no. 5933)]

Kata, "Maghbûn," secara bahasa artinya tertipu di dalam jual beli, atau lemah pikiran.

Al-Jauharî –rahimahullâh–, "Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadîts ini. Karena, sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan pikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji." [Fat'hul Bârî]

Ibnu Bath'thâl –rahimahullâh– berkata, "Makna hadîts ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allâh terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan, termasuk syukur kepada Allâh adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu." [Fat'hul Bârî]

Kemudian, sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– di atas, "Kebanyakan manusia tertipu pada keduanya," ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufîq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.

Ibnul Jauzî –rahimahullâh– berkata, "Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang, manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka, jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.

Maka, barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allâh, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan, barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allâh, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena, waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi, maka masa tua (pikun).

Sebagaimana dikatakan orang, "Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun, bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat." [Fat'hul Bârî]

Ath-Thayyibî –rahimahullâh– berkata, "Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– membuat gambaran bagimukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka, caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allâh dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allâh:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

"Hai orang-orang yang berîmân, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?" [QS. 61: 10] dan ayat-ayat berikutnya.

Berdasarkan itu, dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa nafsu dan berdagang/kerja sama dengan syaitan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.

Sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– di dalam hadîts tersebut, "Kebanyakan manusia tertipu pada keduanya," seperti firman Allâh:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur)." [QS. 34: 13]

" 'Kebanyakan,' di dalam hadîts itu sejajar dengan, 'Sedikit,' di dalam ayat tersebut." [Fat'hul Bârî]

Al-Qâdhî Abû Bakar bin al-Arabî –rahimahullâh– berkata, "Diperselisihkan tentang kenikmatan Allâh yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan, "Keimanan," ada yang mengatakan, "Kehidupan," ada yang mengatakan, "Kesehatan." Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu, kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keîmânan. Dan, di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allâh) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya danhujjah (argumen) tegak atasnya." [Fat'hul Bârî]

Maka, sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shâlih selama kesempatan masih ada. Hanya Allâh tempat memohon pertolongan.

…………………………………………………………………………………………………………………

[Oleh: Ustâdz Abû Ismâ'îl Muslim al-Atsarî –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–]

Sumber:
Ayat RENUNGKANLAH


Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]

Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]

Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]

Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]

Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]

Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]

(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]

……………………………………………………………………

Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]

_______________________________________________________

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qurân? Kalau sekiranya al-Qurân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. an-Nisâ: 82]