Jumat, 25 Februari 2011

Penyebab Kurangnya Rasa Syukur

Hits:

SEBAB KURANGNYA RASA SYUKUR
(Oleh: Syaikh Abdullâh bin Shâlih bin Fauzân al-Fauzân)



Allâh menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa makhluk tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat-Nya kepada mereka. Allâh –'Azza min Qa'il– berkata (berfirman –nauf.):

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا

"Dan, seandainya kalian menghitung nikmat Allâh, kalian tidak akan (mampu) menghitungnya." [An-Nahl: 18]

Maknanya, mereka tidak akan mampu bersyukur atas nikmat-nikmat Allâh dengan cara yang dituntut. Karena, orang yang tidak mampu menghitung nikmat Allâh, bagaimana mungkin dia akan mensyukurinya?

Barangkali seorang hamba tidak dikatakan menyepelekan, jika dia mengerahkan segenap usahanya untuk bersyukur, dengan mewujudkan ubudiyah (penghambaan) kepada Allâh, Rabb semesta alam, sesuai dengan firman-Nya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Maka, bertakwalah kalian kepada Allâh menurut kemampuan kalian." [At-Taghâbun: 16]


Sikap meremehkan yang kami maksudkan adalah, jika seorang manusia senantiasa berada dalam nikmat Allâh, siang dan malam, ketika safar maupun mukim, ketika tidur maupun terjaga, kemudian muncul dari perkataan, perbuatan dan keyakinannya sesuatu yang tidak sesuai dengan sikap syukur sama sekali. Sikap peremehan inilah yang kita ingin mengetahui sebagian sebab-sebabnya. Kemudian, kita sampaikan obatnya dengan apa yang telah Allâh bukakan. Dan, taufiq hanyalah di tangan Allâh.


DI ANTARA SEBAB-SEBAB INI

Sebab Pertama, Lalai dari Nikmat Allâh

Sesungguhnya banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang besar, baik nikmat yang umum maupun khusus. Akan tetapi, dia lalai darinya. Dia tidak mengetahui bahwa dia hidup dalam kenikmatan. Itu, karena dia telah terbiasa dengannya, dan tumbuh berkembang padanya. Dan dalam hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan selain kenikmatan. Sehingga dia menyangka bahwa perkara (hidup) ini memang seperti itu saja. Seorang manusia, jika tidak mengenal dan merasakan kenikmatan, bagaimana mungkin dia mensyukurinya? Karena syukur, dibangun di atas pengetahuan terhadap nikmat, mengingatnya dan memahami bahwa itu adalah nikmat pemberian Allâh kepadanya.

Sebagian salaf (umat terdahulu –nauf.) berkata, "Nikmat dari Allâh untuk hamba-Nya adalah sesuatu yang majhulah (tidak diketahui). Jika nikmat itu hilang, barulah dia diketahui." [Rabî'ul Abrâr(4/325)]

Sesungguhnya banyak manusia di zaman kita ini senantiasa berada dalam kenikmatan Allâh, mereka memenuhi perut mereka dengan berbagai makanan dan minuman, memakai pakaian yang paling indah, bertutupkan selimut yang paling baik, menunggangi kendaraan yang paling bagus, kemudian mereka berlalu untuk urusan mereka tanpa mengingat-ingat nikmat dan tidak mengetahui hak bagi Allâh. Maka, mereka seperti binatang, mulutnya menyela-nyela tempat makanan, lalu jika telah kenyang, dia pun berlalu darinya. Dan, semacam ini pantas bagi binatang.

Jika kenikmatan telah menjadi banyak dengan mengalirnya kebaikan secara terus-menerus dan bermacam-macam, manusia akan lalai dari orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat itu. Dia menyangka bahwa orang lain seperti dia, sehingga tidak muncul rasa syukur kepada Pemberi nikmat. Oleh karena itu, Allâh memerintahkan hamba-Nya untuk mengingat-ingat nikmat-Nya atas mereka –sebagaimana telah dijelaskan–. Karena, mengingat-ingat nikmat akan mendorong seseorang untuk mensyukurinya. Allâh berfirman:

وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ

"Dan, ingatlah nikmat Allâh padamu, dan apa yang telah diturunkan Allâh kepadamu, yaitu al-Kitâb dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allâh memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu." [Al-Baqarah: 231]

Sebab Kedua, Kebodohan terhadap Hakikat Nikmat

Sebagian orang tidak mengetahui nikmat, tidak mengenal dan tidak memahami hakikat nikmat. Dia tidak tahu bahwa dirinya berada dalam kenikmatan, karena dia tidak mengetahui hakikat nikmat. Bahkan mungkin dia memandang pemberian nikmat Allâh kepadanya sangat sedikit sehingga tidak pantas untuk dikatakan sebagai kenikmatan. Maka, orang yang tidak mengetahui nikmat, bahkan bodoh terhadapnya, tidak akan bisa mensyukurinya.

Sesungguhnya ada sebagian manusia yang jika melihat suatu kenikmatan diberikan kepadanya dan juga kepada orang lain, bukan kekhususan untuknya, maka dia tidak bersyukur kepada Allâh. Karena, dia memandang dirinya tidak berada dalam suatu kenikmatan selama orang lain juga berada pada kenikmatan tersebut. Sehingga banyak orang yang berpaling dari mensyukuri nikmat Allâh yang sangat besar pada dirinya, yang berupa anggota badan dan indera, dan juga nikmat Allâh yang sangat besar pada alam semesta ini.

Ambilah sebagai contoh, nikmatnya penglihatan. Ini merupakan nikmat Allâh yang sangat agung yang banyak dilalaikan oleh manusia. Siapakah yang mengetahui kenikmatan ini, memperhatikan haknya dan menyukurinya? Alangkah sedikitnya mereka itu.

"Seandainya seseorang mengalami kebutaan, lalu Allâh mengembalikan penglihatannya dengan suatu sebab yang Allâh takdirkan, apakah dia akan memandang penglihatannya pada keadaan yang kedua ini, sebagaimana kelalaiannya terhadap yang pertama? Tentu tidak, karena dia telah mengetahui nilai kenikmatan ini setelah dia kehilangan nikmat tersebut. Maka, orang ini mungkin akan bersyukur kepada Allâh atas nikmat penglihatan ini, akan tetapi dengan cepat dia akan melupakannya. Dan, ini adalah puncak kebodohan, karena rasa syukurnya bergantung kepada hilang dan kembalinya nikmat tersebut. Padahal sesuatu (kenikmatan) yang langgeng lebih berhak disyukuri daripada (kenikmatan) yang kadang-kadang terputus." [Lihat Mukhtashar Minhâjil Qashidîn (hlm. 288)]

Sebab Ketiga, Pandangan Sebagian Manusia kepada Orang yang Berada di Atasnya

Jika seorang manusia melihat kepada orang yang diatasnya, yaitu orang-orang yang diberi kelebihan atasnya, dia akan meremehkan karunia yang Allâh berikan kepadanya. Sehingga, dia pun kurang dalam melaksanakan kewajiban syukur. Karena, dia melihat bahwa apa yang diberikan kepadanya adalah sedikit, sehingga dia meminta tambahan untuk bisa menyusul atau mendekati orang yang berada di atasnya. Dan, ini ada pada kebanyakan manusia. Hatinya sibuk dan badannya letih dalam berusaha untuk menyusul orang-orang yang telah diberi kelebihan atasnya berupa harta dunia. Sehingga keinginannya hanyalah untuk mengumpulkan dunia. Dia lalai dari bersyukur dan melaksanakan kewajiban ibadah, yang sebenarnya dia diciptakan untuk hal tersebut (ibadah).

Telah datang suatu hadîts, dari Abû Hurairah –radhiyallâhu 'anhu–, bahwa Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلىَ مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فيِ الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلىَ مَن هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

"Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan atasnya dalam masalah harta dan penciptaan, hendaknya dia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya, yang dia telah diberi kelebihan atasnya." [Riwayat Muslim (2963), dan lihat Jâmi'ul Ushûl (10/142)]

Sebab Keempat, Melupakan Masa Lalu

Di antara manusia ada yang pernah melewati kehidupan yang menyusahkan dan sempit. Dia hidup pada masa-masa yang menegangkan dan penuh rasa takut, baik dalam masalah harta, penghidupan atau tempat tinggal. Dan, tatkala Allâh memberikan kenikmatan dan karunia kepadanya, dia enggan untuk membandingkan antara masa lalunya dengan kehidupannya sekarang, agar menjadi jelas baginya karunia Rabb atasnya. Barangkali, hal itu akan membantunya untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu. Akan tetapi, dia telah tenggelam dalam nikmat-nikmat Allâh yang sekarang, dan telah melupakan keadaannya terdahulu. Oleh karena itu, engkau lihat banyak orang yang telah hidup dalam kemiskinan pada masa-masanya yang telah lalu, namun mereka kurang bersyukur dengan keadaan mereka yang engkau lihat sekarang ini.

Setiap manusia wajib untuk mengambil pelajaran dari kisah yang ada dalam hadîts shahîh (hadîts panjang dari Abû Hurairah):

"Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Banî Isrâîl, orang yang punya penyakit kusta, orang yang botak dan orang yang buta.." [Diriwayatkan oleh al-Bukhârî (3277) danMuslim (2946)]

(Yang maknanya), Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Banî Isrâîl yang ingin Allâh uji. Mereka adalah orang yang punya penyakit kusta, orang yang botak dan orang yang buta. Maka, ujian itu menampakkan hakikat mereka yang telah Allâh ketahui sebelum menciptakan mereka. Adapun orang yang buta, maka dia mengakui pemberian nikmat Allâh kepadanya, mengakui bahwa dahulu dia adalah seorang yang buta lagi miskin, lalu Allâh memberikan penglihatan dan kekayaan kepadanya. Dia pun memberikan apa yang diminta oleh pengemis, sebagai bentuk syukur kepada Allâh. Adapun orang yang botak dan orang yang berpenyakit kusta, mereka mengingkari kemiskinan dan buruknya keadaan mereka sebelum itu. Keduanya berkata tentang kekayaan itu, "Sesungguhnya aku mendapatkannya dari keturunan."

Inilah keadaan kebanyakan manusia. Tidak mengakui keadaannya terdahulu, berupa kekurangan, kebodohan, kemiskinan dan dosa-dosa, (tidak mengakui) bahwasanya Allâh-lah yang memindahkan dia dari keadaannya semula kepada kebalikannya, dan memberikan kenikmatan tersebut.




…………………………………………………………………………………………………………………

[Diterjemahkan dari makalah Syaikh Abdullâh bin Shâlih bin Fauzân al-Fauzân –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–, dengan judul التقصير في الشكر وأسبابه (sumber berbahasa arab: www.alFuzan.islamlight.net/index.php?option=content&task=view&id=2053&Itemid=47)]

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayat RENUNGKANLAH


Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]

Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]

Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]

Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]

Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]

Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]

(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]

……………………………………………………………………

Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]

_______________________________________________________

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qurân? Kalau sekiranya al-Qurân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. an-Nisâ: 82]