Selasa, 22 Februari 2011

Pengantar Kehidupan Dunia

Hits:

PENGANTAR KEHIDUPAN DUNIA
(Oleh: Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qâsim)


Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ– menyifati dunia dengan firman-Nya:

"..Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal." [Al-Mu'min: 39]

Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ memberikan peringatan kepada manusia akan fitnah (cobaan), berupa harta dan anak-anak, dengan firman-Nya: 

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allâh-lah pahala yang besar." [Al-Anfâl: 28]

Dan, Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ melarang manusia agar tidak selalu memperhatikan apa yang dimiliki orang lain dengan firman-Nya:

"Dan, janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.." [Thahâ: 131]

"Ayat-ayat al-Qurân yang mencela dunia sangatlah banyak, bahkan sebagian besar mencakup pencelaan terhadap dunia, memalingkan manusia dari dunia, mengajak mereka menuju kehidupan akhirat. Sangatlah jelas apa yang diungkap dalam al-Qurân tentang hal ini, maka tidak diperlukan lagi untuk mengungkap dalil dari al-Qurân yang menjelaskan tentang kesucian akhirat." [Al-Ihyâ dengan ringkasan (III/ 216)]

Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam– telah menggambarkan dunia dengan lisannya, dengan sabdanya:

"Aku sama sekali (tidak memiliki keakraban) dengan dunia, perumpamaanku dengan dunia adalah bagaikan seseorang yang ada di dalam perjalanan, dia beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, lalu dia pergi dan meninggalkannya." [HR. Ahmad, at-Tirmidzî, Ibnu Mâjah dan al-HakîmHadîts ini di-shahîh-kan oleh Syaikh al-Albânî]

Karena banyaknya kesibukan dunia dan pekerjaan di dalam kehidupan ini, Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam– memberikan perhatian khusus kepada umatnya untuk mempersiapkan sebuah hari perjalanan dan berbekal diri untuk kehidupan akhirat. Beliau –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara." [HR. al-Bukhârî]

Barangsiapa yang melihat manusia berkerumun terhadap dunia dan mereka khusyu' dalam mengumpulkan hartanya, baik yang halal maupun yang haram, maka ingatlah sabda Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:

"Jika engkau melihat Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ– memberikan (harta) duniawi kepada seorang hamba atas kemaksiatan yang ia sukai, maka itu merupakan istidraj (tipuan yang memperdaya)." [HR. Ahmad, ath-Thabrânî dan al-BaihaqîHadîts ini di-shahîh-kan oleh Syaikh al-Albânî]

Siapa yang dirinya tergantung kepada dunia yang fana, dan berjalan dengan terengah-engah di belakang materi dunia, maka semua itu akan memalingkan dirinya dari ketaatan, ibadah dan dari melaksanakan kewajiban tepat pada waktunya. Juga, dari melaksanakan kewajiban secara sempurna. 

Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda:

"Hari Kiamat telah dekat, tidak ada yang bertambah dalam (diri) manusia terhadap dunia kecuali ketamakan, dan mereka tidak bertambah kepada Allâh melainkan semakin (bertambah) jauh." [HR. al-Hakîm dari Ibnu Mas'ûd, danhadîts ini di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albânî]

Sedangkan mengumpulkan kekayaan dunia secara halal dengan menggunakannya di jalan yang halal adalah sebuah ibâdah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allâh –Subhânahu wa Ta'âlâ–. Adapun jika mendapatkannya dengan cara yang haram atau menggunakannya di jalan yang haram, maka hal itu merupakan sebuah bekal yang menjerumuskan pelakunya ke dalam api Neraka.

Yahyâ bin Mu'âdz berkata, "Aku sama sekali tidak memerintahkanmu untuk meninggalkan dunia, akan tetapi aku memerintahkanmu untuk meninggalkan dosa-dosa. Meninggalkan dunia hanya merupakan keutamaan, sedangkan meninggalkan dosa adalah suatu kewajiban. Dan, menegakkan kewajiban lebih penting bagimu daripada sebuah kebaikan-kebaikan dan keutamaan (yang sifatnya tidak wajib –ed)."

Dunia itu –wahai saudaraku yang mulia– adalah materi yang nampak di hadapan manusia, di dalamnya ada sebuah karunia. Yaitu, bumi beserta isinya, karena sesungguhnya bumi adalah tempat tinggal bagi manusia, sedangkan apa yang ada padanya berupa pakaian, makanan, minuman beserta kebutuhan biologis. Semuanya hanya merupakan makanan badan orang yang sedang berjalan menuju Allâh –Subhânahu wa Ta'âlâ–. Manusia tidak akan menetap di dunia, kecuali dengan semua ini. Sebagaimana unta yang tidak akan bisa melakukan perjalanan menuju haji, kecuali dengan dipenuhi berbagai macam kebutuhannya. Maka, siapa yang mengambilnya sebatas yang dianjurkan, berarti dia akan terpuji. Dan, siapa yang mengambilnya melebihi batas kebutuhan, maka kejelekan akan menghampirinya, kemudian dia menjadi tercela. 

Sebenarnya dia dilarang untuk mengambil dunia dengan cara yang jelek, karena hal itu akan mengeluarkannya dari kemanfaatan menuju kemudharatan. Dia akan sibuk dengan dunia yang dapat melupakan kehidupan akhiratnya, sehingga tujuan utama hilang dari dirinya. Dia bagaikan seseorang yang terus saja memberikan makanan kepada untanya, memberinya air, bahkan memakaikan pakaian yang bermacam-macam kepadanya. Akan tetapi, dia melupakan sekawanan lainnya yang telah pergi, akhirnya dia dan untanya berada di daerah menjadi buruan bagi binatang buas.

Manusia sama sekali tidak boleh lalai dalam memenuhi kebutuhannya, karena unta tidak akan sanggup melakukan perjalanan, kecuali jika semua kebutuhannya telah terpenuhi. Cara yang tepat adalah dengan sikap pertengahan, yaitu mengambil dunia sesuai dengan kebutuhan dirinya (pertengahan) sebagai bekal dari sebuah perjalanan, walaupun dia menginginkan yang lainnya, karena memberikan kebutuhan diri adalah sikap yang benar dalam memberikan haknya.[Mukhtashar Minhâjil Qashidîn (hal. 211)]

Aun bin Abdullâh berkata, "Dunia dan akhirat, di dalam hati, bagaikan dua sisi timbangan. Jika sisi salah satunya lebih berat, maka sisi lainnya akan lebih ringan." [Tazkiyatun Nufûs (hal. 129)]

Siapa saja yang memuji dunia karena kehidupan yang mensejahterakannya, maka sungguh dia akan mencela karena bagiannya yang sedikit.

Jika dia (dunia) meninggalkan seseorang, maka itu adalah sebuah kerugian. Dan jika dia datang, maka itu adalah sebuah kegalauan. [Bustânul 'Aarifîn (hal. 17)]

Al-Hasan pernah ditanya, "Wahai Abû Sa'îd, siapakah manusia yang paling keras teriakannya pada hari Kiamat?" Beliau menjawab, "Orang yang dikaruniai sebuah nikmat, tetapi dia menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allâh." [Al-Hasan al-Bashrî (hal. 47)]

Tidak diragukan bahwa orang yang menggunakan dunianya untuk ketaatan adalah sebuah kebaikan yang sangat agung, dia bershadaqah dan berinfak dengannya, dia pun ikut serta di dalam menebarkan ilmu dan membangun masjid dengannya. Ini adalah sebuah karunia yang sangat besar dari Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ– baginya, yaitu bahwasanya Dia mengarahkan harta tersebut untuk menggunakannya pada hal-hal yang bermanfaat baginya di akhiratnya.

Orang yang mencintai harta dengan selalu mengumpulkan emas dan perak dari semenjak lahir sampai mati, sesungguhnya dia berjalan di belakang dirham dan dinar. Akan tetapi, apa yang ia capai dan kemana akhir perjalanannya?

Seorang pemuda berjalan untuk sesuatu yang tidak akan ia temukan, sedangkan jiwa hanya satu, dan kegalauan menyebar.

Seseorang tidak akan hidup dengan umur yang terus memanjang, mata tidak akan terhenti sehingga berakhir sebuah kehidupan.

Dunia terkadang datang dan pergi, dari kecukupan kepada kekurangan, dari senang kepada tidak senang (sempit), dia tidak akan terus-menerus dan tidak tetap dalam satu keadaan.. Inilah ketetapan Allâh –Subhânahu wa Ta'âlâ– kepada makhluk-Nya, sebenarnya manusia berlari di belakang fatamorgana, bertahun-tahun dan berhari-hari.. Lalu, dia akan mati.

Ia hanyalah bangkai yang berubah, padanya ada anjing-anjing yang selalu menginginkannya.

Jika engkau menjauhinya, maka engkau menyerahkan kepada penghuninya, dan jika engkau mengambilnya, maka anjing-anjingnya akan memusuhimu. [Syadzarâtudz Dzahab (XX/10)]

Umar bin al-Khath'thâb –radhiyallâhu 'anhu– berkata, "Zuhud di dunia adalah ketenteraman hati dan badan." [Târîkh 'Umar (hal. 26)]

Al-Hasan –rahimahullah– berkata, "Aku mendapati suatu kaum (para Sahabat Nabî –ed.) yang tidak pernah berbahagia dengan sesuatu pun dari dunia yang mereka dapatkan, dan tidak pernah menyesal dengan sesuatu pun dari dunia yang hilang darinya." [Az-Zuhd (hal. 230) karya Imâm Ahmad]

Semua ini terangkum dalam perkataan Imâm Ahmad, beliau berkata, "Zuhud di dunia adalah dengan tidak memiliki angan-angan yang panjang."

Seorang Mukmin tidak layak untuk menjadikan dunia sebagai tanah air, tempat tinggal, dan merasa tenteram di dalamnya. Bahkan seharusnya, dia merasakan seakan-akan dia berada dalam suatu perjalanan. [Jâmi'ul 'Ulûm (hal. 3780)]

Inilah pemahaman yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Yahyâ bin Mu'âdz, beliau berkata, "Bagaimana aku tidak mencintai dunia, makananku ada di dalamnya, dengannya aku menjalani kehidupan dan melaksanakan ketaatan, yang pada akhirnya aku mendapatkan Surga." [Tazkiyatun Nufûs (hal. 128)]

Sangat pantas jika kita merasa iri kepada mereka, tidak kepada orang-orang yang memiliki rumah-rumah atau istana-istana yang megah, sedangkan mereka lalai dalam beribadah dan menyia-nyiakan ketaatan.

Jika zaman tidak memberikan pakaian kesehatan kepadamu, dan tidak memberikan makanan yang manis dan tawar, maka janganlah engkau iri terhadap orang-orang yang kaya, karena apa-apa yang ada pada mereka akan dirampas sesuai dengan apa yang diberikan oleh masa kepada mereka. [Az-Zuhd (hal. 116) karya al-Baihaqî]

Abdullâh bin Umar –radhiyallâhu 'anhumâ– berkata, "Sesungguhnya dunia itu adalah Surga bagi orang kâfir dan penjara bagi orang yang beriman. Dan, sesungguhnya perumpamaan seorang Mukmin ketika dirinya keluar dari dunia adalah bagaikan seorang yang sebelumnya berada di dalam penjara, lalu dia dikeluarkan darinya. Sehingga dia berjalan di atas bumi dengan mencari keluasan." [Syarhush Shudûr (hal. 13)]

Wahai manusia, panah kematian tepat mengenai kalian, maka perhatikan dengan jeli! Dan, jerat angan-angan ada di hadapan kalian, maka berhati-hatilah! Bahaya fitnah dunia telah mengelilingi kalian dari berbagai arah, maka jagalah diri kalian! Dan, janganlah kalian tertipu dengan indahnya keadaan kalian sekarang ini, karena semuanya akan hilang, akan pergi, akan menyusut dan akan hancur. [Al-'Aaqibah (hal. 69)]

Hari-hari berlalu kepada kita semua dengan berurutan, kita hanyalah digiring kepada ajal, sedangkan mata melihatnya.
Masa muda yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, dan uban yang telah keruh tidak akan pernah hilang. [Syadzarâtudz Dzahab (VI/231)]

Maka, barangsiapa yang merenungi akibat dari kehidupan dunia, niscaya dia akan berhati-hati mengarunginya. Dan siapa saja yang meyakini panjangnya perjalanan (akhirat), maka dia akan mempersiapkan bekal untuk perjalanan tersebut. [Shaidul Khâthir (hal. 25)]

Kita telah melakukan kelalaian di dunia ini, sedangkan dosa datang silih berganti.






















…………………………………………………………………………………………………………………

[Disalin dari kitab ad-Dun'yâ Zhillun Zâil, karya Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qâsim. Edisi Indonesia: Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan (Penerjemah: Beni Sarbeni. Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir)]

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayat RENUNGKANLAH


Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]

Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]

Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]

Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]

Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]

Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]

(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]

……………………………………………………………………

Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]

_______________________________________________________

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qurân? Kalau sekiranya al-Qurân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. an-Nisâ: 82]