Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi' al-Qusyairi al-Manfaluthi ash-Sha'idi al-Maliki asy-Syafi'i. Banyak menulis kitab, dan beliau juga pensyarah al-Arbai'in an-Nawawiyyah.
KELAHIRANNYA
Dilahirkan pada bulan Sya'ban tahun 625 H, dekat Yanbu', Hijaz. Beliau mendengar dari Ibnu al-Muqirah, tetapi beliau ragu mengenai cara pengambilan. Beliau menuturkan dari Ibnu al-Jumaizi, Sabth as-Salafi, al-Hafizh Zakiyuddin dan sejumlah kalangan. Sementara di Damaskus, dari Ibnu Abdidda'im dan Abu al-Baqa' Khalid bin Yusuf.
KARTA TULISNYA
Beliau menulis Syarh al-Umdah, kitab al-Ilmam, mengerjakan al-Imam fi al-Ahkam, yang seandainya selesai tulisannya, niscaya menca-pai 15 jilid, dan mengerjakan kitab mengenai ilmu-ilmu Hadits.
Beliau salah seorang cendekiawan pada masanya, luas ilmunya, banyak kitab-kitabnya, senantiasa berjaga (untuk shalat malam), senantiasa dalam kesibukan, tenang lagi wara'. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.
Beliau memiliki kemampuan yang mumpuni mengenai ushul dan ma'qul, serta ahli mengenai ilat-ilat manqul. Menjabat sebagai qadhi di negeri Mesir beberapa tahun hingga meninggal dunia. Beliau, berkenaan dengan masalah bersuci dan air, sangat ragu-ragu.
Al-Hafizh Quthbuddin mengatakan, “Syaikh Taqiyuddin adalah imam pada masanya, dan termasuk orang yang tinggi dalam ilmu dan kezuhudan dibandingkan sejawatnya. Tahu mengenai dua mazhab, imam mengenai dua prinsip mazhab, hafizh, dan seksama dalam Hadits dan ilmu-ilmunya. Beliau dijadikan perumpamaan mengenai hal itu. Beliau simbol dalam hafalan, keseksamaan dan ketelitian, sangat besar rasa takutnya, senantiasa berdzikir, dan tidak tidur malam, kecuali sedikit. Beliau menghabiskan malamnya di antara menelaah, membaca al-Quran, dzikir dan tahajud, sehingga berjaga menjadi kebiasaannya. Seluruh waktunya diisi dengan suatu yang berguna. Beliau banyak belas kasih kepada orang-orang yang sibuk lagi banyak berbuat kebajikan kepada mereka.
Beliau wafat pada tahun 702 H.
[Disalin dari Biografi Ibnu Daqiq al-Ied dalam Tadzkirah al-Huffazh, adz-Dzahabi]
Nama lengkapnya adalah Abu al-Fida' Imaduddin Isma'il bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di Negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.
RIWAYAT PENDIDIKAN
Ibnu Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth'im, Ibnu Asyakir, Ibnu Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibnu Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli Hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibnu Katsir dengan putrinya.
Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.
PRESTASI KEILMUAN
Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli Hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir, yaitu Tafsir al-Quran al-'Azhim, menjadi kitab tafsir terbesar dan ter-shahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari.
Para ulama mengatakan bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan al-Quran dengan al-Quran (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan al-Quran dengan as-Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salaf ash-shalih (pendahulu kita yang shalih, yakni para sahabat, tabi'in dan tabi' at-tabi'in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.
KARYA IBNU KATSIR
Selain Tafsir al-Quran al-'Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah al-Bidayah wa an-Nihayah yang berisi kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu, Jami' al-Masanid yang berisi kumpulan Hadits, Ikhtishar 'Ulum al-Hadits tentang ilmu Hadits, Risalah fi al-Jihad tentang jihad, dan masih banyak lagi.
KESAKSIAN PARA ULAMA
Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama, baik di zamannya maupun ulama sesudahnya. Adz-Dzahabi berkata bahwa Ibnu Katsir adalah seorang mufti (pemberi fatwa), muhaddits (ahli Hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan bermanfaat.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan Hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya, manusia masih dapat mengambil manfaat yang sangat banyak dari karya-karyanya.
Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) Hadits, dan paling mengetahui cacat Hadits serta keadaan para perawinya. Para sahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.”
WAFATNYA
Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi. Beliau berasal dari negara Turkumanistan, dan maula Bani Tamim.
KELAHIRANNYA
Beliau dilahirkan pada tahun 673 H di Mayyafariqin Diyar Bakr. Beliau dikenal dengan kekuatan hafalan, kecerdasan, kewaraan, kezuhudan, kelurusan akidah dan kefasihan lisannya.
GURU-GURUNYA
Beliau menuntut ilmu sejak usia dini, dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua bidang ilmu; Ilmu-ilmu al-Qur'an dan Hadits Nabawi. Beliau menempuh perjalanan yang jauh dalam mencari ilmu, ke Syam, Mesir dan Hijaz (Makkah dan Madinah). Beliau mengambil ilmu dari para ulama di negeri-negeri tersebut. Diantara para ulama yang menjadi guru-guru beliau adalah:
1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang beliau letakkan namannya paling awal di deretan guru-guru yang memberikan ijazah pada beliau dalam kitabnya, Mu'jam asy-Syuyukh. Beliau begitu mengagumi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, “Dia lebih agung, jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun dan maqam, maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tidak –demi Allah–, bahkan beliau sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.” {Radd al-Wafir (hal. 35)}
2. Al-Hafizh Jamaluddin Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi, yang dikatakan oleh beliau, “Beliau adalah sandaran kami jika kami menemui masalah-masalah yang musykil.” {Ad-Durar al-Kaminah (V:235)}
3. Al-Hafizh Alamuddin Abdul Qasim bin Muhammad al-Birzali, yang menyemangati beliau dalam belajar ilmu Hadits. Beliau mengatakan tentangnya, “Beliaulah yang menjadikanku mencintai ilmu Hadits.” {Ad-Durar al-Kaminah (III:323)}
Ketiga ulama diatas adalah yang banyak memberikan pengaruh terhadap kepribadian beliau. Adapun guru-guru beliau yang lainnya adalah Umar bin Qawwas, Ahmad bin Hibatullah bin Asakir, Yusuf bin Ahmad al-Ghasuli, Abdul Khaliq bin Ulwan, Zainab binti Umar bin Kindi, al-Abuqi, Isa bin Abdul Mun'im bin Syihab, Ibnu Daqiq al-Ied, Abu Muhammad ad-Dimyathi, Abu al-Abbas azh-Zhahiri, Ali bin Ahmad al-Gharrafi, Yahya bin Ahmad ash-Shawwaf, at-Tauzari, masih banyak lagi yang lainnya.
Imam adz-Dzahabi memiliki Mu'jam asy-Syuyukh (Daftar Guru-Guru –ed.) beliau yang jumlahnya mencapai 3000-an orang. {Adz-Dzahabi wa Manhajuh fi Kitabih, Tarikh al-Islam}
MURID-MURIDNYA
Diantara murid beliau adalah Tajuddin as-Subki, Muhammad bin Ali al-Husaini, al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Hafizh Ibnu Rajab, dan masih banyak lagi selain mereka.
PUJIAN PARA ULAMA KEPADA BELIAU
Imam Ibnu Nashruddin ad-Dimasyqi berkata, “Beliau adalah ayat (tanda kebesaran Allah –ed.) dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta'dil (ilmu kritik hadits –ed.) lantaran mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan mazhab-mazhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan mazhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.” {Radd al-Wafir (hal. 13)}
Ibnu Katsir berkata, “Beliau adalah Syaikh al-Hafizh al-Kabir, pakar Tarikh Islam, Syaikh al-Muhadditsin… Beliau adalah penutup syuyukh Hadits dan huffazh-nya.” [Al-Bidayah wa an-Nihayah (XIV:225)]
Tajuddin as-Subki berkata, “Beliau adalah syaikh jarh wa ta'dil, pakar rijal, seakan-akan umat ini dikumpulkan di satu tempat, kemudian beliau melihat dan mengungkapkan seja mereka.” [Thabaqat Syafi'iyyah Kubra (IX:101)]
An-Nabilisi berkata, “Beliau pakar zamannya dalam hal perawi dan keadaaan-keadaan mereka, tajam pemahamannya, cerdas dan ketenarannya sudah mencukupi daripada menyebutkan sifat-sifatnya.” {Ad-Durar Al-Kaminah(III:427)}
Ash-Shafadi berkata, “Beliau seorang hafizh yang tidak tertandingi, penceramah yang tidak tersaingi, mumpuni dalam hadits dan rijalnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang 'illah dan keadaan-keadaannya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang biografi manusia. Menghilangkan ketidak jelasan dan kekaburan dalam seja manusia. Beliau memiliki akal yang cerdas, benarlah nisbatnya kepada dzahab (emas). Beliau mengumpulkan banyak bidang ilmu, memberi manfaat yang banyak kepada manusia, banyak memiliki karya ilmiah, lebih mengutamakan hal yang ringkas dalam tulisannya, dan tidak berpanjang lebar. Aku telah bertemu dan berguru kepadanya, dan membaca banyak dari tulisan-tulisannya di bawah bimbingannya. Aku tidak menjumpai padanya kejumudan, bahkan beliau adalah faqih dalam pandangannya, memiliki banyak pengetahuan tentang perkataan-perkataan ulama, mazhab-mazhab para imam salaf dan para pemilik pemikiran.” {Al-Wafi bi al-Wafayat (II:163)}
DIANTARA PERKATAAN-PERKATAAN BELIAU
Imam adz-Dzahabi berkata, “Tidak sedikit orang yang memusatkan perhatiannya pada ilmu kalam, melainkan ijtihadnya akan membawanya kepada perkataan yang menyelisihi Sunnah. Karena itulah ulama salaf mencela setiap yang belajar ilmu-ilmu para umat sebelum Islam. Ilmu Kalam turunan dari ilmu para filosof Atheis. Barangsiapa yang sengaja ingin menggabungkan ilmu para Nabi dengan ilmu para ahli Filsafat dengan mengandalkan kecerdasannya, maka pasti ia akan menyelisihi para Nabi dan para ahli Filsafat. Dan barangsiapa yang berjalan di belakang apa yang dibawa oleh para Rasul… Maka sungguh ia telah menempuh jalan salaf, dan menyelamatkan agama dan keyakinannya.” {Mizan al-I'tidal (III:144)}
Beliau menukil perkataan Ma'mar, “Dahulu dikatakan bahwa seseorang menuntut ilmu untuk selain Allah, maka ilmu itu enggan hingga semata-mata untuk Allah.” Kemudian beliau mengomentari perkataan Ma'mar tersebut dengan mengatakan, “Ya, ia awalnya menuntut ilmu atas dorongan kecintaan kepada ilmu agar menghilangkan kejahilannya, agar mendapat pekerjaan dan yang semacamnya. Ia belum tahu tentang wajibnya ikhlas dalam menuntutnya dan kebenaran niat di dalamnya. Maka jika sudah mengetahuinya, ia hisab dirinya dan takut terhadap akibat buruk dari niatnya yang keliru, maka datanglah kepada niat yang shahih semuanya atau sebagiannya. Kadang ia bertaubat dari niatnya yang keliru dan menyesal. Tanda atas hal itu ialah bahwasanya ia mengurangi dari klaim-klaim, perdebatan dan perasaan memiliki ilmu yang banyak, dan ia hinakan dirinya. Adapun jika ia merasa banyak ilmunya atau mengatakan, ‘Saya lebih berilmu dari pada Fulan,’ maka sungguh celakalah ia.” {Siyar A'lam an-Nubala' (VII:17)}
Beliau berkata, “Yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah hendaknya bertakwa, cerdas, mahir Nahwu, mahir ilmu bahasa, memiliki rasa malu dan bermanhaj salaf.” {Siyar (XIII:380)}
Beliau berkata, “Ahli Hadits sekarang hendaknya memperhatikan Kutub as-Sittah, Musnad Ahmad dan Sunan al-Baihaqi. Dan hendaknya teliti terhadap matan-matan dan sanad-sanadnya, kemudian tidak mengambil manfaat dari hal itu hingga ia bertakwa kepada Rabb-nya dan menjadikan Hadits sebagai dasar agama. Kemudian ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tetapi ia adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati, dan syaratnya adalah ittiba' (mengikuti Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam––ed.), dan menjauhkan diri dari hawa nafsu dan kebid'ahan.” {Siyar (XIII:323)}
Beliau berkata, “Kebanyakan ulama pada zaman ini terpaku dengan taklid dalam hal furu', tidak mau mengembangkan ijtihad, tenggelam dalam logika-logika umat terdahulu dan pemikiran ahli Filsafat. Dengan demikian, bencana pun meluas, hawa nafsu menjadi hukum dan tanda-tanda tercabutnya ilmu semakin nampak. Semoga Allah merahmati seseorang yang mau memperhatikan kondisi dirinya, menjaga ucapannya, selalu membaca al-Quran, menangis atas kejadian zaman, memperhatikan kitab ash-Shahihain dan beribadah kepada Allah sebelum ajal datang secara tiba-tiba.” {Tadzkirah al-Huffazh (II:530)}
KARYA-KARYANYA
Beliau memiliki sekitar 100 karya tulis, di antara karya-karya tulis itu adalah:
1.Al-'Uluww li al-'Aliyyil Ghaffar
2.Taariikh al-Islaam
3.Siyar A'laam an-Nubalaa'
4.Mukhtashar Tahdziib al-Kamaal
5.Miizaan al-I'tidaal fii Naqd ar-Rijaal
6.Thabaqah al-Huffazh
7.Al-Kaasyif fii man lahu Riwaayah fii al-Kutub as-Sittah
8.Mukhtashar Sunan al-Baihaqii
9.Halaqah al-Badr fii 'Adadi Ahli Badr
10.Thabaqat al-Qurra'
11.Naba'u Dajjal
12.Tahdziib at-Tahdziib
13.Tanqiih Ahaadiits at-Ta'liiq
14.Muqtana fii al-Kuna
15.Al-Mughnii fii adh-Dhu'afaa'
16.Al-'Ibar fii Khabar man Ghabar
17.Talkhiish al-Mustadrak
18.Ikhtishar Taarikh al-Kathib
19.Al-Kabaair
20.Tahriim al-Adbar
21.Tauqif Ahli Taufiq fii Manaaqib ash-Shiddiq
22.Ni'mas Samar fii Manaaqib 'Umar
23.At-Tibyaan fii Manaaqib 'Utsman
24.Fath al-Mathalib fii Akhbaar 'Alii bin Abii Thalib
25.Ma Ba'da al-Maut
26.Ikhtishar Kitaab al-Qadar li al-Baihaqi
27.Nafdh al-Ja'bah fii Akhbaar Syu'bah
28.Ikhtishar Kitab al-Jihad, Asakir
29.Mukhtashar Athraafi al-Mizzii
30.At-Tajriid fii Asmaa' ash-Shahaabah
31.Mukhtashar Tariikh Naisabuur, al-Hakim
32.Mukthashar al-Muhallaa
33.Tartiil Maudhuu'at, Ibnu al-Jauzi
WAFATNYA
Beliau wafat pada malam Senin 3 Dzulqa'dah 748 H di Damaskus, Syiria, dan dimakamkan di pekuburan Bab ash-Shaghir.
[Sumber: Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra, Tajuddin as-Subki (IX:100-116), Radd al-Wafiir, Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (hal.31-32), Abjad al-'Ulum, Shiddiq Hasan Khan (III:99-100), dan Dzail Tadzkirah al-Huffazh (I:34-37)]
Beliau adalah Imam, Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam'ah bin Hizam an-Nawawi, dinasabkan dengan Kota Nawa sebuah dusun di daerah Hauran, Suria, dari Damaskus sekitar dua hari perjalanan. Beliau seorang yang bermazhab Syafi'i, Syaikh al-Madzhab dan seorang fuqaha besar di zamannya. Lahir di bulan Muharam tahun 631 H di desa Nawa, dari dua orang tua yang shalih. Ketika berumur sepuluh tahun, mulai menghafal al-Quran dan bacaan-bacaan fiqih kepada para ulama disana.
KEILMUAN BELIAU
Pada suatu hari, ada seorang syaikh yang melewati desa itu, yakni Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi. Beliau melihat seorang anak yang tidak suka bermain-main, bahkan lari darinya sambil menangis karena tidak sukanya, dan lebih suka membaca al-Quran. Maka pergilah beliau menemui kedua orang tuanya dan menasehatkan supaya anak itu dikhususkan untuk menimba ilmu. Usulan itu pun diterima. Pada tahun 649 H, (an-Nawawi) diajak bapaknya untuk mendapatkan ilmu yang lebih sempurna di Madrasah Dar al-Hadits, dan tinggal di Madrasah ar-Rawahiyah yang berada di pojok timur dari Masjid al-Umawi, Damaskus. Dan beliau di sana menghafal kitab at-Tanbih selama empat setengah bulan, dan hafal seperempat bab ibadah dari kitab at-Tahdzib, sisa tahunnya. Dan dalam waktu yang singkat, dapat mengundang kekaguman ustadz beliau, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghribi, dan menjadikannya asisten dalam pelajarannya.
Beliau –rahimahullah– adalah seorang yang mempunyai wawasan ilmu dan tsaqafah yang luas. Ini dapat dilihat dalam kesungguhannya menimba ilmu. Berkata salah seorang muridnya, yakni Alauddin bin al-Aththar, bahwa beliau setiap hari mempelajari dua belas pelajaran, baik syarah-nya maupun tashhih-nya kepada para syaikh beliau. Dua pelajaran pengantar, satu pelajaran muhadzdzab (sopan santun), satu pelajaran gabungan dari dua kitab shahih (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim –ed.), satu pelajaran tentang Shahih Muslim, satu pelajaran kitab al-Lam'u oleh Ibnu Jinni dalam pelajaran Nahwu, satu pelajaran dalam lshlah al-Manthiq oleh Ibnu as-Sikiit dalam pelajaran bahasa, satu pelajaran Sharaf, satu pelajaran Ushul Fiqih, dan kadang kitab al-Lam'u oleh Abu Ishaq dan kadang al-Muntakhab oleh Fakhrurrazi; dan satu pelajaran tentang Asma' Rijal, satu pelajaran Ushuluddin, dan adalah beliau menulis semua hal yang bersangkutan dengan semua pelajaran ini, baik mengenai penjelasan kemusykilannya maupun penjelasan istilah, serta detail bahasanya.
Beliau adalah seorang yang tekun dan telaten dalam mudzakarah dan belajar siang dan malam, selama sekitar dua puluh tahun hingga mencapai puncaknya. Dan beliau tidak makan kecuali sekali saja, yakni ketika sahur. Beliau seorang yang banyak melakukan puasa, dan belum beristri.
Hasilnya tampak jelas ketika beliau mulai mengarang kitab tahun 660 H. Ketika itu, beliau berumur 30 tahun. Sebagian karangan beliau yang paling penting adalah Syarh Shahih Muslim, Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, Riyadh ash-Shalihin, al-Adzkar, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, al-Arba'in dan Minhaj fi al-Fiqh.
SEORANG ALIM PENASEHAT
Dalam diri Imam an-Nawawi tercermin sifat-sifat alim, suka memberi nasihat, seorang yang berjihad di jalan Allah dengan lisannya, menegakkan kewajiban ber-amar ma'ruf nahi munkar. Seorang yang mukhlish dalam memberi nasehat, tidak mempunyai tendensi apapun, seorang yang pemberani, tidak takut celaan di jalan Allah terhadap orang yang mencelanya. Seorang yang mempunyai bayan dan hujjah untuk memperkuat dakwaannya.
Beliau dijadikan rujukan oleh manusia bila mereka menghadapi perkara yang sulit dan pelik, serta meminta fatwa kepadanya. Dan beliau menanggapinya serta berusaha memecahkan permasalahannya, seperti ketika berkenaan dengan hukum penyitaan atas dua taman di Syam; ketika Damaskus kedatangan penguasa dari Mesir, dari Raja Bibiris, setelah mereka dapat mengusir pasukan Tartar, maka wakil (pejabat) baitul mal menyangka bahwa kebanyakan dari taman-taman yang berada di Syam tersebut adalah milik negara. Maka sang raja memerintahkan untuk memagarinya, yakni menyitanya.
Maka orang-orang melaporkan hal itu kepada Imam an-Nawawi di Dar al-Hadits. Kemudian beliau menulis surat kepada sang penguasa yang dinyatakan di dalamnya sebagai berikut:
“Kaum muslimin merasa dirugikan atas adanya penyitaan hak milik mereka, oleh karena itu mereka menuntut supaya hak milik mereka dikembalikan. Dan penyitaan ini tidak dihalalkan oleh seorang ulama pun dari kalangan kaum Muslimin. Karena barangsiapa yang di tangannya sesuatu, maka dialah pemiliknya, tidak boleh seorang pun merampasnya dan tidak dibenarkan menjadikannya sebagai status miliknya.”
Maka marahlah sang penguasa tersebut terhadap nasehat yang ditujukan kepadanya itu, lalu ia memerintahkan supaya gaji syaikh itu dihentikan dan dicopot dari jabatannya. Akan tetapi orang-orang menyatakan bahwa syaikh itu tidak mendapat gaji dan tidak pula mempunyai jabatan. Akhirnya ketika penguasa itu memandang bahwa tidak bermanfaat lagi surat-menyurat, maka ia pergi sendiri untuk menemui Imam an-Nawawi dan hendak mengumpatnya habis-habisan ,dan ia ingin mengamuknya. Akan tetapi Allah memalingkan hati penguasa itu dari berbuat yang demikian itu, dan melindungi al-Imam an-Nawawi dari hal semacam itu. Bahkan sang penguasa itu kemudian mencabut penyitaan, dan manusia pun dilepaskan Allah dari kejahatannya.
WAFATNYA BELIAU
Beliau –rahimahullah– wafat pada tahun 676 H setelah menziarahi kubur para guru-gurunya, mengunjungi para sahabat-sahabatnya serta menyatakan selamat berpisah dengan mereka, dan setelah mengunjungi orang tua dan berziarah ke Masjid al-Aqsa dan kuburan Nabi Ibrahim. Kemudian beliau kembali ke Desa Nawa, dan kemudian sakit lalu diikuti dengan meninggalnya beliau pada tanggal 24 Rajab. Ketika kabar wafatnya beliau sampai di Damaskus, maka manusia menjadi terkejut dan menangis. Dan kaum Muslimin sangat menyayangkan sekali akan wafatnya beliau. Maka Qadhi al-Qudhat Izzuddin Muhammad bin ash-Shaigh dan serombongan sahabatnya berangkat ke Nawa untuk bertakziah dan menshalatinya di kuburnya.
[Sumber rujukan: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh ash-Shalihin min Kalam Sayyid al-Mursalin (oleh an-Nawawi –rahimahullah–) dan Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi (oleh Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi)]
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan, pada setiap seratus tahun, ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam–. Kami berpendapat, pada seratus tahun yang pertama, Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz, dan pada seratus tahun berikutnya, Allah mentakdirkan Imam asy-Syafi'i.”
NASAB BELIAU
Kun-yah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi' bin as-Sai'b bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam– pada Abdu Manaf, sedangkan al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib –ed.).
TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota Asqalan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa beliau pindah ke kota kelahiran Nabi Muhammad –shalallahu 'alaihi wa sallam–, Makkah al-Mukaramah.
PERTUMBUHANNYA
Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.
Setelah itu, beliau mempelajari tata bahasa Arab dan syair sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan, dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian, tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni, serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan imam atas orang-orang.
KECERDASANNYA
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
1.Kemampuannya menghafal al-Quran, di luar kepala, pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
2.Cepatnya menghafal kitab Hadits, al-Muwathta', karya imam darul hijrah, Imam Malik bin Anas, pada usia sepuluh tahun.
3.Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam asy-Syafi'i.
4.Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.
Muslim bin Khalid az-Zanji berkata kepada Imam asy-Syafi'i, “Berfatwalah, wahai Abu Abdillah! Sungguh demi Allah, sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”
MENUNTUT ILMU
Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar, setelah hafal al-Quran, adalah membaca Hadits. Beliau mengatakan, “Membaca Hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal al-Quran, beliau belajar kitab Hadits karya Imam Malik bin Anas, kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.
GURU-GURU BELIAU
Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:
5.Fudhail bin Iyadh, serta beberapa ulama yang lain.
Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah, di antara mereka adalah:
1.Malik bin Anas.
2.Ibrahim bin Abu Yahya al-Aslami al-Madani.
3.Abdul Aziz ad-Darawardi.
4.Athaf bin Khalid.
5.Ismail bin Ja'far.
6.Ibrahim bin Sa'ad, serta para ulama yang berada pada tingkatannya.
Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman, di antaranya:
1.Mutharrif bin Mazin.
2.Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.
Dan di Baghdad, beliau mengambil ilmu dari:
1.Muhammad bin al-Hasan, ulamanya bangsa Irak. Beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya, ilmu yang banyak.
2.Ismail bin Ulayah.
3.Abdul Wahab ats-Tsaqafi, serta yang lainnya.
MURID-MURID BELIAU
Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan imam umat Islam, yang paling menonjol adalah:
1.Ahmad bin Hanbal, ahli Hadits dan sekaligus juga ahli fiqih, serta imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum Muslimin.
2.Al-Hasan bin Muhammad az-Za'farani.
3.Ishaq bin Rahawaih.
4.Harmalah bin Yahya.
5.Sulaiman bin Dawud al-Hasyimi
6.Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid al-Kalbi, dan lainnya, banyak sekali.
KARYA BELIAU
Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya, sebagaimana yang diwariskan oleh para Nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid-muridnya, dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental, ar-Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima' al-'Ilm.
PUJIAN PARA ULAMA KEPADA BELIAU
Benarlah sabda Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam–:
(Artinya), “Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” {HR.at-Tirmidzi (2419), dan di-shahih-kan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami' (6097)}
Begitulah keadaan para imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam asy-Syafi'i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.
Qutaibah bin Sa'id berkata, “Asy-Syafi'i adalah seorang imam.” Beliau juga berkata, “Imam ats-Tsauri wafat, maka hilanglah wara'. Imam asy-Syafi'i wafat, maka matilah Sunnah. Dan apa bila Imam Ahmad bin Hanbal wafat, maka nampaklah kebid'ahan.”
Imam asy-Syafi'i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirussunnah (pembela Sunnah Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam––ed.).”
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Asy-Syafi'i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”
Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya (kemudian beliau menyebutkan ats-Tsauri, al-Auza'i, Malik dan Abu Hanifah), melainkan Imam asy-Syafi'i adalah yang paling besar ittiba'-nya kepada Nabi –shalallahu 'alaihi wa sallam–, dan paling sedikit kesalahannya.”
Abu Dawud as-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada asy-Syafi'i satu ucapanpun yang salah.”
Ibrahim bin Abdul Thalib al-Hafizh berkata: Aku bertanya kepada Abu Qudamah as-Sarkhasi tentang asy-Syafi'i, Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu Rahawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi'i adalah yang paling faqih di antara mereka.”
PRINSIP AKIDAH BELIAU
Imam asy-Syafi'i termasuk imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah, beliau jauh dari pemahaman Asy'ariyah dan Maturidiyah yang menyimpang dalam akidah, khususnya dalam masalah akidah yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat Allah –Subahanahu wa Ta'ala–.
Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam al-Quran dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam– kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena al-Quran telah turun dengannya (nama dan sifat Allah –ed.) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya, maka ia Kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka ia dimaafkan atas kebodohannya. Karena ilmu tentang nama-nama dan sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran.
“Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya, sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,
‘Tidak ada yang menyerupai-Nya sesuatu pun. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ ”
Dalam masalah al-Quran, beliau (Imam asy-Syafi'i –ed.) mengatakan, “Al-Quran adalah Kalamullah (firman Allah –ed.). Barangsiapa mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, maka ia telah Kafir.”
PRINSIP DALAM FIQIH
Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi Hadits yang shahih, maka ambil-lah Hadits yang shahih dan janganlah taklid kepadaku.”
Beliau berkata, “Semua Hadits yang shahih dari Nabi –shalallahu 'alaihi wa sallam– maka itu adalah pendapatku, meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.”
Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah –shalallahu 'alaihi wa sallam–, maka ucapkanlah Sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”
SIKAP IMAM ASY-SYAFI'I TERHADAP AHLUL BID'AH
Muhammad bin Dawud berkata, “Pada masa Imam asy-Syafi'i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidak dikenal darinya, bahkan beliau benci kepada ahli kalam dan ahli bid'ah.”
Beliau bicara tentang ahli bid'ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin Ulayyah sesat.”
Imam asy-Syafi'i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahli kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta, lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, ‘Ini balasan orang yang meninggalkan al-Kitab dan Sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.’ ”
PESAN IMAM ASY-SYAFI'I
“Ikutilah ahli Hadits oleh kalian! Karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”
WAFAT BELIAU
Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya'ban tahun 204 H, dan umur beliau sekitar 54 tahun. [Siyar (10/76)]
Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum Muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam asy-Syafi'i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”
KATA-KATA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI'I
“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, takwa dan tsiqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat untukmu.”
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]
Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]
Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]
Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]
Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]
Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]
(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]
Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]
……………………………………………………………………
Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]