Minggu, 20 Juni 2010

Biografi Imam an-Nawawi (631-676 H)

Hits:


ABU ZAKARIYA YAHYA BIN SYARAF AN-NAWAWI

NASABNYA
Beliau adalah Imam, Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam'ah bin Hizam an-Nawawi, dinasabkan dengan Kota Nawa sebuah dusun di daerah Hauran, Suria, dari Damaskus sekitar dua hari perjalanan. Beliau seorang yang bermazhab Syafi'i, Syaikh al-Madzhab dan seorang fuqaha besar di zamannya. Lahir di bulan Muharam tahun 631 H di desa Nawa, dari dua orang tua yang shalih. Ketika berumur sepuluh tahun, mulai menghafal al-Quran dan bacaan-bacaan fiqih kepada para ulama disana.
KEILMUAN BELIAU
Pada suatu hari, ada seorang syaikh yang melewati desa itu, yakni Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi. Beliau melihat seorang anak yang tidak suka bermain-main, bahkan lari darinya sambil menangis karena tidak sukanya, dan lebih suka membaca al-Quran. Maka pergilah beliau menemui kedua orang tuanya dan menasehatkan supaya anak itu dikhususkan untuk menimba ilmu. Usulan itu pun diterima. Pada tahun 649 H, (an-Nawawi) diajak bapaknya untuk mendapatkan ilmu yang lebih sempurna di Madrasah Dar al-Hadits, dan tinggal di Madrasah ar-Rawahiyah yang berada di pojok timur dari Masjid al-Umawi, Damaskus. Dan beliau di sana menghafal kitab at-Tanbih selama empat setengah bulan, dan hafal seperempat bab ibadah dari kitab at-Tahdzib, sisa tahunnya. Dan dalam waktu yang singkat, dapat mengundang kekaguman ustadz beliau, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghribi, dan menjadikannya asisten dalam pelajarannya.
Beliau –rahimahullah– adalah seorang yang mempunyai wawasan ilmu dan tsaqafah yang luas. Ini dapat dilihat dalam kesungguhannya menimba ilmu. Berkata salah seorang muridnya, yakni Alauddin bin al-Aththar, bahwa beliau setiap hari mempelajari dua belas pelajaran, baik syarah-nya maupun tashhih-nya kepada para syaikh beliau. Dua pelajaran pengantar, satu pelajaran muhadzdzab (sopan santun), satu pelajaran gabungan dari dua kitab shahih (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim –ed.), satu pelajaran tentang Shahih Muslim, satu pelajaran kitab al-Lam'u oleh Ibnu Jinni dalam pelajaran Nahwu, satu pelajaran dalam lshlah al-Manthiq oleh Ibnu as-Sikiit dalam pelajaran bahasa, satu pelajaran Sharaf, satu pelajaran Ushul Fiqih, dan kadang kitab al-Lam'u oleh Abu Ishaq dan kadang al-Muntakhab oleh Fakhrurrazi; dan satu pelajaran tentang Asma' Rijal, satu pelajaran Ushuluddin, dan adalah beliau menulis semua hal yang bersangkutan dengan semua pelajaran ini, baik mengenai penjelasan kemusykilannya maupun penjelasan istilah, serta detail bahasanya.
Beliau adalah seorang yang tekun dan telaten dalam mudzakarah dan belajar siang dan malam, selama sekitar dua puluh tahun hingga mencapai puncaknya. Dan beliau tidak makan kecuali sekali saja, yakni ketika sahur. Beliau seorang yang banyak melakukan puasa, dan belum beristri.
Hasilnya tampak jelas ketika beliau mulai mengarang kitab tahun 660 H. Ketika itu, beliau berumur 30 tahun. Sebagian karangan beliau yang paling penting adalah Syarh Shahih Muslim, Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, Riyadh ash-Shalihin, al-Adzkar, Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, al-Arba'in dan Minhaj fi al-Fiqh.
SEORANG ALIM PENASEHAT
Dalam diri Imam an-Nawawi tercermin sifat-sifat alim, suka memberi nasihat, seorang yang berjihad di jalan Allah dengan lisannya, menegakkan kewajiban ber-amar ma'ruf nahi munkar. Seorang yang mukhlish dalam memberi nasehat, tidak mempunyai tendensi apapun, seorang yang pemberani, tidak takut celaan di jalan Allah terhadap orang yang mencelanya. Seorang yang mempunyai bayan dan hujjah untuk memperkuat dakwaannya.
Beliau dijadikan rujukan oleh manusia bila mereka menghadapi perkara yang sulit dan pelik, serta meminta fatwa kepadanya. Dan beliau menanggapinya serta berusaha memecahkan permasalahannya, seperti ketika berkenaan dengan hukum penyitaan atas dua taman di Syam; ketika Damaskus kedatangan penguasa dari Mesir, dari Raja Bibiris, setelah mereka dapat mengusir pasukan Tartar, maka wakil (pejabat) baitul mal menyangka bahwa kebanyakan dari taman-taman yang berada di Syam tersebut adalah milik negara. Maka sang raja memerintahkan untuk memagarinya, yakni menyitanya.
Maka orang-orang melaporkan hal itu kepada Imam an-Nawawi di Dar al-Hadits. Kemudian beliau menulis surat kepada sang penguasa yang dinyatakan di dalamnya sebagai berikut:
“Kaum muslimin merasa dirugikan atas adanya penyitaan hak milik mereka, oleh karena itu mereka menuntut supaya hak milik mereka dikembalikan. Dan penyitaan ini tidak dihalalkan oleh seorang ulama pun dari kalangan kaum Muslimin. Karena barangsiapa yang di tangannya sesuatu, maka dialah pemiliknya, tidak boleh seorang pun merampasnya dan tidak dibenarkan menjadikannya sebagai status miliknya.”
Maka marahlah sang penguasa tersebut terhadap nasehat yang ditujukan kepadanya itu, lalu ia memerintahkan supaya gaji syaikh itu dihentikan dan dicopot dari jabatannya. Akan tetapi orang-orang menyatakan bahwa syaikh itu tidak mendapat gaji dan tidak pula mempunyai jabatan. Akhirnya ketika penguasa itu memandang bahwa tidak bermanfaat lagi surat-menyurat, maka ia pergi sendiri untuk menemui Imam an-Nawawi dan hendak mengumpatnya habis-habisan ,dan ia ingin mengamuknya. Akan tetapi Allah memalingkan hati penguasa itu dari berbuat yang demikian itu, dan melindungi al-Imam an-Nawawi dari hal semacam itu. Bahkan sang penguasa itu kemudian mencabut penyitaan, dan manusia pun dilepaskan Allah dari kejahatannya.
WAFATNYA BELIAU
Beliau –rahimahullah– wafat pada tahun 676 H setelah menziarahi kubur para guru-gurunya, mengunjungi para sahabat-sahabatnya serta menyatakan selamat berpisah dengan mereka, dan setelah mengunjungi orang tua dan berziarah ke Masjid al-Aqsa dan kuburan Nabi Ibrahim. Kemudian beliau kembali ke Desa Nawa, dan kemudian sakit lalu diikuti dengan meninggalnya beliau pada tanggal 24 Rajab. Ketika kabar wafatnya beliau sampai di Damaskus, maka manusia menjadi terkejut dan menangis. Dan kaum Muslimin sangat menyayangkan sekali akan wafatnya beliau. Maka Qadhi al-Qudhat Izzuddin Muhammad bin ash-Shaigh dan serombongan sahabatnya berangkat ke Nawa untuk bertakziah dan menshalatinya di kuburnya.
[Sumber rujukan: Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadh ash-Shalihin min Kalam Sayyid al-Mursalin (oleh an-Nawawi rahimahullah) dan Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi (oleh Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi)]
________________________________________________________
Sumber:
Disadur dari www.FatwaSyafiiyah.blogspot.com, dengan sedikit perbaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayat RENUNGKANLAH


Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]

Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]

Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]

Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]

Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]

Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]

(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]

……………………………………………………………………

Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]

_______________________________________________________

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qurân? Kalau sekiranya al-Qurân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. an-Nisâ: 82]