Jumat, 25 Februari 2011

Penyebab Kurangnya Rasa Syukur

SEBAB KURANGNYA RASA SYUKUR
(Oleh: Syaikh Abdullâh bin Shâlih bin Fauzân al-Fauzân)



Allâh menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa makhluk tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat-Nya kepada mereka. Allâh –'Azza min Qa'il– berkata (berfirman –nauf.):

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا

"Dan, seandainya kalian menghitung nikmat Allâh, kalian tidak akan (mampu) menghitungnya." [An-Nahl: 18]

Maknanya, mereka tidak akan mampu bersyukur atas nikmat-nikmat Allâh dengan cara yang dituntut. Karena, orang yang tidak mampu menghitung nikmat Allâh, bagaimana mungkin dia akan mensyukurinya?

Barangkali seorang hamba tidak dikatakan menyepelekan, jika dia mengerahkan segenap usahanya untuk bersyukur, dengan mewujudkan ubudiyah (penghambaan) kepada Allâh, Rabb semesta alam, sesuai dengan firman-Nya:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Maka, bertakwalah kalian kepada Allâh menurut kemampuan kalian." [At-Taghâbun: 16]


Sikap meremehkan yang kami maksudkan adalah, jika seorang manusia senantiasa berada dalam nikmat Allâh, siang dan malam, ketika safar maupun mukim, ketika tidur maupun terjaga, kemudian muncul dari perkataan, perbuatan dan keyakinannya sesuatu yang tidak sesuai dengan sikap syukur sama sekali. Sikap peremehan inilah yang kita ingin mengetahui sebagian sebab-sebabnya. Kemudian, kita sampaikan obatnya dengan apa yang telah Allâh bukakan. Dan, taufiq hanyalah di tangan Allâh.


DI ANTARA SEBAB-SEBAB INI

Sebab Pertama, Lalai dari Nikmat Allâh

Sesungguhnya banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang besar, baik nikmat yang umum maupun khusus. Akan tetapi, dia lalai darinya. Dia tidak mengetahui bahwa dia hidup dalam kenikmatan. Itu, karena dia telah terbiasa dengannya, dan tumbuh berkembang padanya. Dan dalam hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan selain kenikmatan. Sehingga dia menyangka bahwa perkara (hidup) ini memang seperti itu saja. Seorang manusia, jika tidak mengenal dan merasakan kenikmatan, bagaimana mungkin dia mensyukurinya? Karena syukur, dibangun di atas pengetahuan terhadap nikmat, mengingatnya dan memahami bahwa itu adalah nikmat pemberian Allâh kepadanya.

Sebagian salaf (umat terdahulu –nauf.) berkata, "Nikmat dari Allâh untuk hamba-Nya adalah sesuatu yang majhulah (tidak diketahui). Jika nikmat itu hilang, barulah dia diketahui." [Rabî'ul Abrâr(4/325)]

Sesungguhnya banyak manusia di zaman kita ini senantiasa berada dalam kenikmatan Allâh, mereka memenuhi perut mereka dengan berbagai makanan dan minuman, memakai pakaian yang paling indah, bertutupkan selimut yang paling baik, menunggangi kendaraan yang paling bagus, kemudian mereka berlalu untuk urusan mereka tanpa mengingat-ingat nikmat dan tidak mengetahui hak bagi Allâh. Maka, mereka seperti binatang, mulutnya menyela-nyela tempat makanan, lalu jika telah kenyang, dia pun berlalu darinya. Dan, semacam ini pantas bagi binatang.

Jika kenikmatan telah menjadi banyak dengan mengalirnya kebaikan secara terus-menerus dan bermacam-macam, manusia akan lalai dari orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat itu. Dia menyangka bahwa orang lain seperti dia, sehingga tidak muncul rasa syukur kepada Pemberi nikmat. Oleh karena itu, Allâh memerintahkan hamba-Nya untuk mengingat-ingat nikmat-Nya atas mereka –sebagaimana telah dijelaskan–. Karena, mengingat-ingat nikmat akan mendorong seseorang untuk mensyukurinya. Allâh berfirman:

وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ

"Dan, ingatlah nikmat Allâh padamu, dan apa yang telah diturunkan Allâh kepadamu, yaitu al-Kitâb dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allâh memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu." [Al-Baqarah: 231]

Sebab Kedua, Kebodohan terhadap Hakikat Nikmat

Sebagian orang tidak mengetahui nikmat, tidak mengenal dan tidak memahami hakikat nikmat. Dia tidak tahu bahwa dirinya berada dalam kenikmatan, karena dia tidak mengetahui hakikat nikmat. Bahkan mungkin dia memandang pemberian nikmat Allâh kepadanya sangat sedikit sehingga tidak pantas untuk dikatakan sebagai kenikmatan. Maka, orang yang tidak mengetahui nikmat, bahkan bodoh terhadapnya, tidak akan bisa mensyukurinya.

Sesungguhnya ada sebagian manusia yang jika melihat suatu kenikmatan diberikan kepadanya dan juga kepada orang lain, bukan kekhususan untuknya, maka dia tidak bersyukur kepada Allâh. Karena, dia memandang dirinya tidak berada dalam suatu kenikmatan selama orang lain juga berada pada kenikmatan tersebut. Sehingga banyak orang yang berpaling dari mensyukuri nikmat Allâh yang sangat besar pada dirinya, yang berupa anggota badan dan indera, dan juga nikmat Allâh yang sangat besar pada alam semesta ini.

Ambilah sebagai contoh, nikmatnya penglihatan. Ini merupakan nikmat Allâh yang sangat agung yang banyak dilalaikan oleh manusia. Siapakah yang mengetahui kenikmatan ini, memperhatikan haknya dan menyukurinya? Alangkah sedikitnya mereka itu.

"Seandainya seseorang mengalami kebutaan, lalu Allâh mengembalikan penglihatannya dengan suatu sebab yang Allâh takdirkan, apakah dia akan memandang penglihatannya pada keadaan yang kedua ini, sebagaimana kelalaiannya terhadap yang pertama? Tentu tidak, karena dia telah mengetahui nilai kenikmatan ini setelah dia kehilangan nikmat tersebut. Maka, orang ini mungkin akan bersyukur kepada Allâh atas nikmat penglihatan ini, akan tetapi dengan cepat dia akan melupakannya. Dan, ini adalah puncak kebodohan, karena rasa syukurnya bergantung kepada hilang dan kembalinya nikmat tersebut. Padahal sesuatu (kenikmatan) yang langgeng lebih berhak disyukuri daripada (kenikmatan) yang kadang-kadang terputus." [Lihat Mukhtashar Minhâjil Qashidîn (hlm. 288)]

Sebab Ketiga, Pandangan Sebagian Manusia kepada Orang yang Berada di Atasnya

Jika seorang manusia melihat kepada orang yang diatasnya, yaitu orang-orang yang diberi kelebihan atasnya, dia akan meremehkan karunia yang Allâh berikan kepadanya. Sehingga, dia pun kurang dalam melaksanakan kewajiban syukur. Karena, dia melihat bahwa apa yang diberikan kepadanya adalah sedikit, sehingga dia meminta tambahan untuk bisa menyusul atau mendekati orang yang berada di atasnya. Dan, ini ada pada kebanyakan manusia. Hatinya sibuk dan badannya letih dalam berusaha untuk menyusul orang-orang yang telah diberi kelebihan atasnya berupa harta dunia. Sehingga keinginannya hanyalah untuk mengumpulkan dunia. Dia lalai dari bersyukur dan melaksanakan kewajiban ibadah, yang sebenarnya dia diciptakan untuk hal tersebut (ibadah).

Telah datang suatu hadîts, dari Abû Hurairah –radhiyallâhu 'anhu–, bahwa Rasûlullâh –shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلىَ مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فيِ الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلىَ مَن هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

"Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan atasnya dalam masalah harta dan penciptaan, hendaknya dia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya, yang dia telah diberi kelebihan atasnya." [Riwayat Muslim (2963), dan lihat Jâmi'ul Ushûl (10/142)]

Sebab Keempat, Melupakan Masa Lalu

Di antara manusia ada yang pernah melewati kehidupan yang menyusahkan dan sempit. Dia hidup pada masa-masa yang menegangkan dan penuh rasa takut, baik dalam masalah harta, penghidupan atau tempat tinggal. Dan, tatkala Allâh memberikan kenikmatan dan karunia kepadanya, dia enggan untuk membandingkan antara masa lalunya dengan kehidupannya sekarang, agar menjadi jelas baginya karunia Rabb atasnya. Barangkali, hal itu akan membantunya untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu. Akan tetapi, dia telah tenggelam dalam nikmat-nikmat Allâh yang sekarang, dan telah melupakan keadaannya terdahulu. Oleh karena itu, engkau lihat banyak orang yang telah hidup dalam kemiskinan pada masa-masanya yang telah lalu, namun mereka kurang bersyukur dengan keadaan mereka yang engkau lihat sekarang ini.

Setiap manusia wajib untuk mengambil pelajaran dari kisah yang ada dalam hadîts shahîh (hadîts panjang dari Abû Hurairah):

"Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Banî Isrâîl, orang yang punya penyakit kusta, orang yang botak dan orang yang buta.." [Diriwayatkan oleh al-Bukhârî (3277) danMuslim (2946)]

(Yang maknanya), Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Banî Isrâîl yang ingin Allâh uji. Mereka adalah orang yang punya penyakit kusta, orang yang botak dan orang yang buta. Maka, ujian itu menampakkan hakikat mereka yang telah Allâh ketahui sebelum menciptakan mereka. Adapun orang yang buta, maka dia mengakui pemberian nikmat Allâh kepadanya, mengakui bahwa dahulu dia adalah seorang yang buta lagi miskin, lalu Allâh memberikan penglihatan dan kekayaan kepadanya. Dia pun memberikan apa yang diminta oleh pengemis, sebagai bentuk syukur kepada Allâh. Adapun orang yang botak dan orang yang berpenyakit kusta, mereka mengingkari kemiskinan dan buruknya keadaan mereka sebelum itu. Keduanya berkata tentang kekayaan itu, "Sesungguhnya aku mendapatkannya dari keturunan."

Inilah keadaan kebanyakan manusia. Tidak mengakui keadaannya terdahulu, berupa kekurangan, kebodohan, kemiskinan dan dosa-dosa, (tidak mengakui) bahwasanya Allâh-lah yang memindahkan dia dari keadaannya semula kepada kebalikannya, dan memberikan kenikmatan tersebut.




…………………………………………………………………………………………………………………

[Diterjemahkan dari makalah Syaikh Abdullâh bin Shâlih bin Fauzân al-Fauzân –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–, dengan judul التقصير في الشكر وأسبابه (sumber berbahasa arab: www.alFuzan.islamlight.net/index.php?option=content&task=view&id=2053&Itemid=47)]

Sumber:

Dua Kenikmatan yang Sering Dilupakan



Allâh Ta'âlâ telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.


Allâh berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allâh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allâh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. 16: 18]


NIKMAT SEHAT

Di antara kenikmatan Allâh yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya." [HR. Ibnu Mâjah (no. 4141) dan lain-lain. Di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albânî di dalam Shahîh al-Jâmi'ush Shaghîr (no. 5918)]

Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allâh Ta'âlâ.

Akan tetapi, kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.

Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang alim. Maka, orang alim itu berkata, "Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang alim itu berkata lagi, "Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang ‘alim itu berkata lagi, "Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang alim itu berkata lagi, "Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?" Dia menjawab, "Tidak." Orang alim itu berkata, "Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allâh) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu?" [Lihat Mukhtashar Minhâjul Qashidîn (hlm. 366)]



DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU

Oleh karena itulah, seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allâh yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadîts di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ خ 

Dari Ibnu Abbâs, dia berkata: Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– bersabda, "Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang." [HR. al-Bukhârî (no. 5933)]

Al-Hâfizh Ibnu Hajar –rahimahullâh– berkata, "Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain." [Fat'hul Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî (penjelasan hadîts no. 5933)]

Kata, "Maghbûn," secara bahasa artinya tertipu di dalam jual beli, atau lemah pikiran.

Al-Jauharî –rahimahullâh–, "Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadîts ini. Karena, sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan pikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji." [Fat'hul Bârî]

Ibnu Bath'thâl –rahimahullâh– berkata, "Makna hadîts ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allâh terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan, termasuk syukur kepada Allâh adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu." [Fat'hul Bârî]

Kemudian, sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– di atas, "Kebanyakan manusia tertipu pada keduanya," ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufîq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.

Ibnul Jauzî –rahimahullâh– berkata, "Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang, manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka, jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.

Maka, barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allâh, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan, barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allâh, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena, waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi, maka masa tua (pikun).

Sebagaimana dikatakan orang, "Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun, bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat." [Fat'hul Bârî]

Ath-Thayyibî –rahimahullâh– berkata, "Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– membuat gambaran bagimukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka, caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allâh dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allâh:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

"Hai orang-orang yang berîmân, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?" [QS. 61: 10] dan ayat-ayat berikutnya.

Berdasarkan itu, dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa nafsu dan berdagang/kerja sama dengan syaitan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.

Sabda Nabî –shallallâhu 'alaihi wa sallam– di dalam hadîts tersebut, "Kebanyakan manusia tertipu pada keduanya," seperti firman Allâh:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur)." [QS. 34: 13]

" 'Kebanyakan,' di dalam hadîts itu sejajar dengan, 'Sedikit,' di dalam ayat tersebut." [Fat'hul Bârî]

Al-Qâdhî Abû Bakar bin al-Arabî –rahimahullâh– berkata, "Diperselisihkan tentang kenikmatan Allâh yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan, "Keimanan," ada yang mengatakan, "Kehidupan," ada yang mengatakan, "Kesehatan." Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu, kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keîmânan. Dan, di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allâh) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya danhujjah (argumen) tegak atasnya." [Fat'hul Bârî]

Maka, sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shâlih selama kesempatan masih ada. Hanya Allâh tempat memohon pertolongan.

…………………………………………………………………………………………………………………

[Oleh: Ustâdz Abû Ismâ'îl Muslim al-Atsarî –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–]

Sumber:

Kesusahan dan Kenikmatan Sebagai Ujian


Sesungguhnya hidup di dunia ini hanyalah sementara. Allâh Ta'âlâ menciptakan manusia dan menguji mereka, agar nampak siapa yang paling baik amalannya. Allâh Ta'âlâ berfirman:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." [QS. al-Mulk: 2]

Qatâdah semoga Allâh merahmatinya berkata, "Allâh telah mengumumkan kematian kepada manusia, dan Dia menjadikan dunia ini sebagai negeri kehidupan dan kebinasaan, dan Dia menjadikan akhirat negeri pembalasan dan kekekalan." [Tafsîr ath-Thabarî (juz 12, hlm 164)]

Dan ujian Allâh kepada manusia berupa perkara yang menyenangkan ataupun yang menyusahkan. Allâh Ta'âlâ berfirman:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." [QS. al-Anbiyâ' (21): 35]

Imâm Ibnu Katsîr berkata tentang firman Allâh, "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan," yaitu, "Kami akan menguji kamu kadang-kadang dengan musibah-musibah dan kadang-kadang dengan kenikmatan-kenikmatan, sehingga Allâh akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbâs, 'Kami akan menguji kamu dengan kesusahan dan kemakmuran, kesehatan dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.' " [Tafsîr Ibnu Katsîr, surah al-Anbiyâ' (21): 35]


SIKAP MANUSIA TERHADAP UJIAN ALLAH

Menghadapi ujian dari Allâh Ta'âlâ tersebut, kebanyakan manusia tidak lulus. Hanya sedikit orang-orang yang lulus ujian, sedikit orang-orang yang beriman, sedikit orang-orang yang bersyukur kepada Allâh Ta'âlâ. Sebagaimana dikatakan oleh Nabî Yûsuf –'alaihissalâm:

"Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrâhîm, Ishâq dan Ya'qûb. Tiadalah patut bagi kami (para Nabî) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allâh. Yang demikian itu adalah dari karunia Allâh kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya)." [QS. Yûsuf (12): 38]

Juga sebagaimana yang ditegaskan oleh Allâh Ta'âlâ kepada Rasûl-Nya yang paling mulia, Nabî Muhammad –shallallâhu 'alaihi wa sallam–:

"Dan sebahagian besar manusia tidak akan berîmân, walaupun kamu sangat menginginkannya." [QS. Yûsuf: 103]

Oleh karena itulah, jumlah yang banyak bukanlah standar kebenaran. Standar kebenaran adalah wahyu yang dibawa oleh Rasûlullâh dari Allâh Ta'âlâ , yang dipahami oleh para sahabatnya.


SIKAP MANUSIA MENGHADAPI UJIAN KESUSAHAN

Banyak manusia berputus asa dengan kesusahan yang mereka alami, seolah-olah kesusahan itu tidak akan hilang dari mereka. Allâh juga berfirman:

"Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika dia ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan." [QS. Fushilat: 49]

Imâm Ibnu Katsîr berkata, "Manusia itu tidak bosan meminta kebaikan kepada Rabbnya, yaitu meminta harta, kesehatan badan dan lainnya. Namun, jika keburukan menimpanya, yaitu musibah atau kemiskinan, dia menjadi putus asa lagi putus harapan, yaitu terbetik pada pikirannya bahwa setelah itu kebaikan tidak akan pernah menghampirinya." [Tafsîr Ibnu Katsîr, surah Fushilat: 49]


SIKAP MANUSIA MENGHADAPI UJIAN KESENANGAN

Namun sebaliknya, jika manusia itu mendapatkan berbagai macam kesenangan dan kenikmatan, maka kebanyakan mereka melupakan kepada Penciptanya. Mereka menganggap bahwa mereka berhak mendapatkan kenikmatan itu, mereka menganggap itu semua karena usahanya dan kepandaiannya. Kemudian, kebanyakan mereka berbuat melewati batas.

Dan sesungguhnya kebanggaan dan kesombongan itu tidak menyelamatkan mereka dari siksa Allâh sedikitpun. Allâh berfirman:

"Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula. Maka, tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan." [QS. az-Zumar: 49-50]

Allâh juga berfirman:

"Dan jika Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.Maka, Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kâfir apa yang telah mereka kerjakan, dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras." [QS. Fushilat: 50]

Imâm Ibnu Katsîr berkata tentang ayat ini, "Yaitu, jika manusia mendapatkan kebaikan dan rizqi setelah kesusahan, dia mengatakan, 'Ini untukku, aku berhak mendapatkannya di sisi Rabbku.'

Firman-Nya, 'Dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang,' yaitu dia kâfir terhadap datangnya hari kiamat. Yaitu, karena Allâh memberikan kenikmatan, dia menjadi sombong, berbangga dan kâfir.

Firman-Nya, 'Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya,' yaitu jika terjadi hari kiamat, maka Rabbku akan berbuat baik kepadaku, sebagaimana di dunia ini telah berbuat baik kepadaku. Dia berangan-angan kosong terhadap Allâh –'Azza wa Jalla–, padahal dia berbuat buruk dan tidak meyakini (hari kiamat).

Firman Allâh, 'Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kâfir apa yang telah mereka kerjakan, dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras,' yaitu Allâh mengancam dengan hukuman dan siksaan terhadap orang yang perbuatannya dan keyakinannya seperti itu." [Tafsîr Ibnu Katsîr, surah Fushilat, 59]


SIAPA YANG LULUS UJIAN?

Walaupun demikian, namun masih ada orang-orang yang lulus menghadapi ujian tersebut sebagaimana firman-Nya:

"Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut dari padanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan, jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, 'Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku.'Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar." [QS. Hûd: 9-11]

Imâm Ibnu Katsîr berkata, "Allâh Ta'âlâ memberitakan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada padanya, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allâh, yaitu hamba-hamba-Nya yang berîmân. Bahwa manusia itu, jika ditimpa oleh kesusahan setelah kenikmatan, dia berputus asa dari kebaikan terhadap masa depan, dan dia mengingkari (kebaikan) yang telah lewat, seolah-olah dia tidak pernah melihat kebaikan, dan setelah itu dia tidak berharap kelonggaran. Demikian juga, jika manusia itu mengalami kenikmatan setelah kesusahan, dia akan berkata, 'Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku,' yaitu, 'Setelah ini, kesusahan dan keburukan tidak akan menimpaku lagi.'

Firman-Nya, 'Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga,' yaitu dia bergembira dan bersombong dengan apa yang ada di tangannya, berbangga terhadap orang lain.

Firman-Nya, 'Kecuali orang-orang yang sabar,' yaitu menghadapi kesusahan-kesusahan dan perkara-perkara yang tidak disukai.

Firman-Nya, 'Dan mengerjakan amal-amal saleh,' yaitu pada waktu longgar dan sehat.

Firman-Nya, 'Mereka itu beroleh ampunan,' yaitu dengan sebab kesusahan yang mereka alami.

Firman-Nya, 'Dan pahala yang besar,' dengan sebab amalan mereka pada waktu longgar." [Tafsîr Ibnu Katsîr, surah Hûd: 9-11]

Maka, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat, bersabar terhadap musibah, dan beramal shâlih pada setiap saat sesuai dengan kemampuan kita. Amîn.

…………………………………………………………………………………………………………………

[Oleh: Ustâdz Abû Ismâ'îl Muslim al-Atsarî –semoga Allâh menjaganya dan membalasnya dengan kebaikan–]

Sumber:
www.UstadzMuslim.com/kesusahan-dan-kenikmatan-sebagai-ujian
Ayat RENUNGKANLAH


Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]

Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]

Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]

Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]

Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]

Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]

(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]

……………………………………………………………………

Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]

_______________________________________________________

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qurân? Kalau sekiranya al-Qurân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. an-Nisâ: 82]