Sabtu, 11 Desember 2010

Adab Berkendara dan Berjalan

Adab Berkendaraan dan Berjalan


Allah Ta'ala berfirman:
 

Dan, Dialah Dzat yang telah menciptakan segala sesuatu bagi kalian, saling berpasang-pasangan, dan menjadikan bagi kalian kapal, binatang ternak dan tunggangan yang kalian kendarai, agar kalian duduk di atas punggungnya, kemudian kalian  mengingat nikmat Rabb kalian apabila kalian telah brada di atasnya, dan kalian mengucapkan, Subhanallahi alladzii sakhkhara lanaa hadzaa wa maa kunnaa lahu muqribiin wa innaa ilaa Rabbinaa lamunqalibuun (Maha Suci Rabb kami yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak sanggup untuk menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami).” {QS. az-Zukhruf  12-13}

Di antara adab-adab berkendaraan dan berjalan:
 

1. Larangan Angkuh Ketika Berjalan
 

Angkuh ketika berjalan termasuk dari sifat-sifat tercela yang tumbuh dari kesombongan dan 'ujub terhadap diri sendiri. Dan, seorang yang beriman, di antara sifat-sifatnya, adalah tawadhu' (rendah diri) dan al-istikanah (tenang), tidak ada sifat al-kibr (sombong) dan al-ghathrasah (menonjolkan diri).
 

Sifat al-kibr (sombong) adalah selendang Allah. Maka, barangsiapa yang merampasnya, niscaya Allah akan mengazabnya.

Dari Abu Sa'id al-Khudri dan Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhuma-, keduanya mengatakan:

Bahwa Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Kemuliaan adalah sarung Allah, dan kesombongan adalah selendangnya. Barangsiapa yang merampasnya dari-Ku niscaya Aku akan mengazabnya.” {HR. Muslim (2620) -dan lafazh hadits ini lafazh beliau-, Ahmad (8677), Abu Dawud (4090) dan Ibnu Majah (4173)}
 

Dan Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Ketika seseorang berjalan dengan kain hullah yang mengagumkan dirinya, rambutnya tersisir rapi terurai sampai pada telinganya. Apabila Allah membenamkannya, maka dia akan berteriak terus sampai hari kiamat.” {HR. al-Bukhari (5789), Muslim (2088), Ahmad (7574) dan ad-Darimi (437)}
 

Keangkuhan tidaklah ada kecuali pada tempat-tempat peperangan untuk membuat marah musuh-musuh, sebagaimana Abu Dujanah lakukan ketika menginkatkan imamah –miliknya- yang berwarna merah, kemudian mulailah dia berjalan dengan angkuh diantara dua barisan yang saling berhadapan. Maka, ketika Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- melihatnya berjalan dengan angkuh, beliau bersabda, “Sesungguhnya jalan seperti itu adalah jalan yang Allah murkai kecuali pada tempat seperti ini.”

2. Cara Jalan yang Paling Baik dan yang Paling Sempurna
 

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah berkata, “Apabila Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- berjalan takaffa'a takaffu'an (condong ke depan)[1] [Muslim (2330)]. Beliau adalah manusia yang paling cepat jalannya, dan yang paling baik dan paling tenang.
 

Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang paling gagah dari Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam-, seakan-akan matahari berjalan di wajahnya, dan saya tidak pernah melihat seseorang yang paling cepat jalannya daripada Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam-, seakan-akan bumi terlipat untuknya, dan sesungguhnya kami mengusahakan diri-diri kami dan sesungguhnya beliau tidak terlihat memaksakannya. [at-Tirmidzi (3647)]
 

Dari Ali bin Abu Thalib, berkata: Apabila Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- berjalan, beliau condong ke depan seakan-akan beliau turun dari shabab[2]. [Dan di dalam riwayat Abu Dawud (4864): Seakan-akan beliau yahwi (jatuh) di dalam shabab.]
 

Sekali waktu, Ali bin Abu Thalib pernah berkata: Apabila beliau berjalan, beliau taqla' (turun ke bawah)[3]. [at-Tirmidzi (3638)]
 

Saya katakan: Makna at-taqallu',  ketinggian pada tanah secara keseluruhan, sebagaimana seseorang yang miring dari bagian daerah yang curam/miring. Jalan seperti ini adalah jalannya para ulul azmi (orang-orang yang punya azam/tekad), dan mempunyai himmah (keinginan yang kuat) dan keberanian, dan jalan seperti ini adalah jalan yang paling sempurna dan lebih memberikan ketenangan pada anggota badan, dan yang lebih jauh dari jalan seorang yang marah, kehinaan dan lemas. {Zaad al-Ma'aad (1/167-177)}

Faedah: Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah menyebutkan, di dalam al-Hadyi, ada sepuluh macam cara berjalan:
 

Yang pertama, yang paling baik dan yang paling sempurna adalah berjalan at-takaffu' dan at-taqallu', seperti keadaan orang yang turun dari ash-shabab (tempat yang miring/curam), dan cara jalan ini adalah cara jalannya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam-.
 

Kedua, berjalan dengan gelisah dan sempoyongan laksana seekor onta yang gelisah. Cara jalan ini cara jalan yang tercela –juga- yang menunjukkan kekurangan akal orang yang melakukannya. Terlebih lagi apabila orang tersebut sering menengok ke kiri dan ke kanan ketika berjalan.
 

Ketiga, berjalan lemas dan berjalan selangkah demi selangkah, seumpama sepotong kayu yang diangkut, dan cara jalan ini adalah cara jalan yang tercela dan jelek.
 

Keempat, jalan dengan dipercepat.
 

Kelima, ar-ramal, cara jalan yang paling cepat disertai langkah yang saling berdekatan, dan disebut juga dengan al-khabab.
 

Keenam, an-naslaan, adalah jalan sambil berjinjit kecil yang tidak mengganggu orang yang berjalan.
 

Ketujuh, al-khauzali, adalah jalan berlenggak-lenggok, yaitu jalan yang disebut ada padanya kelemah-lembutan dan kebanci-bancian.
 

Kedelapan, al-qahqaraa, yaitu jalan ke belakang.
 

Kesembilan, al-jamzaa, yaitu orang berjalan sambil melompat.
 

Kesepuluh, at-tabakhtur, yaitu jalan orang yang 'ujub dan sombong. {(1/167-169)}

3. Makhruhnya Berjalan dengan Satu Sandal

Telah berlalu pembahsaan tentang hal ini pada bab adab berpakaian dan berhias.

4. Termasuk Sunnah Bertelanjang Kaki Kadang-Kadang
 

Berdasarkan perkataan Fudhalah -radhiyallahu 'anhu-, “Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami agar kadang-kadang bertelanjang kaki [ketika berjalan].” {HR. Ahmad (23449), Abu Dawud (4160), dan al-Albani men-shahih-kannya}
 

Dan di dalam hadits Ibnu Umar -radhiyallahu 'anhuma-, tentang ziarahnya Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- kepada Sa'ad bin Ubadah, beliau berkata, Ketika Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- berdiri, kami ikut berdiri bersama beliau, dan kami sekitar sepuluh orang, tidak ada pada kami sandal ,tidak pula khuf  dan tutup kepala/kopyah, dan tidak pula gamis, kami berjalan di atas tanah yang becek itu…al-hadits {HR. Muslim (925)}
 

Jalan dengan bertelanjang kaki mengandung hikmah untuk menghilangkan kebiasaan seseorang merasakan nikmat dengan  seringnya bersandal.[4]

5. Pemilik Kendaraan Lebih Berhak Berada di Bagian Depan Kendaraannya
 

Barangsiapa yang memiliki sesuatu, maka dia lebih berhak atas sesuatu tersebut dari orang selainnya. Dan, mengendarai kendaraan yang hidup atau yang benda mati hukumnya sama,  maka pemilik onta atau kuda atau mobil lebih berhak berada di depan kendaraannya, dan didahulukan daripada yang lainnya. Maka, tidaklah seseorang mengendarai kendaraannya di bagian depan kecuali dengan izin pemiliknya.
 

Hadits Buraidah -radhiyallahu 'anhu- menjelaskan hal tersebut, dan beliau berkata: Ketika Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- berjalan, datang seorang laki-laki berserta keledai, orang itu berkata, Wahai Rasulullah, naiklah. Orang itu mundur ke belakang, Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata, “Tidak kamu yang lebih berhak di depan kendaraanmu dari pada aku, kecuali kamu jadikan hal itu untukku. Orang itu berkata, Aku telah menjadikannya untukmu, maka beliau pun mengendarainya. {HR. at-Tirmidzi (2773) [dan dia berkata, “Hadits hasan gharib dari sisi ini,”] dan Abu Dawud (2573). Al-Albani berkata, Hadits hasan shahih.”}

6. Bolehnya Membonceng Kendaraan Apabila Tidak Memberatkan Kendaraan Tersebut  

Di antara adab berkendaraan adalah tidak mengapa dua atau tiga orang berkendaraan pada satu kendaraan selama suatu kendaraan mampu untuk itu. Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- membonceng sebagian sahabat beliau, seperti Mu'adz [al-Bukhari (2856) dan Muslim (30)], Usamah [al-Bukhari (1670) dan Musllim (1280)], al-Fadhl [al-Bukhari (1513) dan Muslim (1334)], demikian pula beliau membonceng Abdullah bin Ja'far dan al-Hasan atau al-Husain bersamaan [Muslim (2428) dan Ahmad (1744)], dan selain dari mereka -radhiyallahu 'anil jamii'-.[5]

7. Makruhnya Menjadikan Kendaraan Sebagai Mimbar

Berkaitan dengan  masalah ini, diterangkan di dalam hadits Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-, beliau berkata:

“Janganlah kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar-mimbar. Karena, Allah memudahkannya untuk kalian hanya untuk membawa kalian kepada negeri yang belum pernah kalian capai, kecuali dengan bersusah payah. Dan Allah telah menjadikan untuk kalian bumi, maka di atasnyalah hendaknya kalian menunaikan hajat kalian. {HR. Abu Dawud (2567), dan al-Albani menshahihkannya}

Maknanya, Janganlah kalian duduk di punggung-punggung hewan kendaraan,  dan kalian berhenti dan kalian berbicara satu sama lain ketika berjual beli dan selainnya, bahkan turunlah dan tunaikanlah hajat kalian, kemudian tunggangilah setelah itu. Sebagimana perkataan al-Qari. {'Aun al-Ma'bud jilid 4 (7/169)}

Dan janganlah seseorang menyamarkan masalah tersebut dengan dalih berhentinya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- di atas hewan tunggangan beliau ketika hajjatul wada', karena hal itu untuk suatu maslahat yang kuat, dan hal tersebut tidak terulang-ulang.

Ibnu al-Qayyim berkata, “Adapun berhentinya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- di atas hewan tunggangan, beliau ketika hajjatul wada', dan beliau khutbah di atasnya, maka hal tersebut bukan termasuk yang terlarang, karena hal tersebut terjadi karena adanya maslahat umum pada satu waktu, dan tidak terjadi terus menerus, dan hewan tunggang pun tidak merasa capek dan berat sebagaimana didapatkan kepada orang yang terbiasa dengan hal tersebut bukan dalam rangka ke mashlahat. Bahkan mereka menjadikannya tempat untuk tinggal dan tempat duduk yang mana seseorang bermunajat di atasnya, dan tidak turun ke tanah. Hal itu sering terulang dan berlangsung lama, berbeda dengan khutbah beliau -shallallahu 'alaihi wa sallam- di atas hewan tunggangan beliau agar manusia dapat mendengarkan khutbah beliau, dan mengajarkan mereka perkara Islam dan hukum-hukum manasik, maka hal tersebut tidaklah terulang dan tidak berlangsung lama, dan mashlahatnya dapat dirasakan seluruh manusia. {'Aun al-Ma'bud jilid 4 (7/167)}

Faedah: [Mobil] tidak dianggap hewan tunggangan dari sisi lamanya orang duduk di atasnya dan berbicara dengan yang lainnya, karena mobil tersebut tidak mengalami keberatan dan kecapaian, akan tetapi sepatutnya menjaga kendaraan lainnya pengguna jalan, karena mengganggu mereka adalah perkara yang haram, dan Allah Ta'ala berfirman:

Dan mereka yang menyakiti kaum mukminin laki-laki maupun wanita tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah menanggung kedustan dan dosa yang jelas. {QS. al-Ahzab: 58}

__________

[1]    Takakaffi: Condong ke depan sebagaimana condongnya perahu layar ketika berlayar. {Lisan al-'Arab (1/141-142) bahasan: ك ف أ }

[2]      Ash-Shabab: Tashawwubi nahru aw thariq, yaitu berada di hudur. Dan di dalam Shifat Shalat Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-: Adalah beliau turun di shabab, yaitu ke tempat yang rendah, dan Ibnu Abbas berkata, Yang beliau maksudnya adalah bahwa beliau kuat badannya, maka apabila beliau berjalan seakan-akan beliau berjalan di atas bagian depan kakinya karena kuatnya. {Lisan al-'Arab (1/517) bahasan: ص ب ب }

[3]    Taqla' ketika berjalan: Berjalan seakan-akan turun ke bawah... Ada yang mengatakan, maksudnya kekuatan berjalan, dan bahwa beliau mengangkat kedua kakinya dari tanah apabila beliau berjalan dengan mengangkat yang jauh disertai kekuatan, tidak seperti orang yang berjalan dengan sombong dan bernikmat-nikmat, dan langkahnya saling berdekatan, karena hal itu termasuk jalannya wanita, mereka disifatkan dengan hal itu... {Lisan al-'Arab (8/290) bahasan:  ق ل ع }

[4]    Sebagiannya pembahasan telah berlalu di dalam kitab adab berpakaian dan berhias, maka tidak perlu kami ulang lagi.

[5]    Dalam perkara ini adanya dalil bahwa membebani kendaraan, yang kendaraan tersebut tidak mampu, termasuk perbuatan zhalim, bahkan dapat membawa kepada membinasakan kendaraan. Dan pada perkara tersebut adanya isyarat untuk mengetahui sesuatu dengan perasaan, yaitu bahwa membebankan alat kendaraan di atas kemampuannya dan bebannya yang telah ditetapkan dari pembuatnya dapat membahayakan kendaraan tersebut dan menyebabkan kerusakan.

_______________________________________

Sumber:

http://al-atsariyyah.com/775.html#more-775, dengan sedikit perbaikan -tanpa merubah makna-.

Minggu, 10 Oktober 2010

Fungsi Bahasa, serta Ragam dan Laras Bahasa


FUNGSI BAHASA, SERTA RAGAM DAN LARAS BAHASA

Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya.

Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya.

Fungsi Bahasa Dalam Masyarakat:

1.   Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia.
2.   Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia.
3.   Alat untuk mengidentifikasi diri.

Macam-Macam dan Jenis-Jenis Ragam (Keragaman Bahasa):

1.   Ragam bahasa pada bidang tertentu, seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik, dsb.
2.   Ragam bahasa pada perorangan atau idiolek.
3.   Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek, seperti dialek bahasa madura, dialek bahasa medan, dialek bahasa sunda, dialek bahasa bali, dialek bahasa jawa, dan lain sebagainya.
4.   Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial, seperti ragam bahasa orang akademisi berbeda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan.
5.   Ragam bahasa pada bentuk bahasa, seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan.
6.   Ragam bahasa pada suatu situasi, seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku).

Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau/silet, oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata tidak sembarangan, serta menghargai dan menghormati lawan bicara/target komunikasi.

Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen oleh penyandang cacat bisu tuli, karena mereka memiliki bahasa sendiri.

Sumber:

Rabu, 25 Agustus 2010

[Tiga Landasan Pokok]: Tiga Masalah yang Wajib Diketahui oleh Setiap Muslim dan Muslimah


Tiga Masalah yang Wajib Diketahui oleh Setiap Muslim dan Muslimah
________________________________________________________

Ketahuilah –semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatimu–! Bahwasanya wajib bagi Muslim dan Muslimah untuk mengetahui ketiga perkara berikut ini kemudian mengamalkannya:
  • Pertama, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala– lah yang menciptakan kita, yang telah memberikan rizki kepada kita dan Dia tidak membiarkan kita terlantar begitu saja, bahkan Dia –'Azza wa Jalla– mengutus seorang Rasul kepada kita. Barangsiapa yang taat kepada Rasul tersebut, niscaya ia akan masuk Jannah (Surga). Dan barangsiapa yang mendurhakainya, niscaya masuk neraka. Dalilnya yaitu firman Allah –Subhanahu wa Ta'ala–:

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولا

 فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلا

(Artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu (wahai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun, maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa ia dengan siksaan yang berat.” {Quran Surah Al-Muzammil (73): 15-16}
  • Kedua, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala– tidak ridha dipersekutukan dengan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya, baik dengan Malaikat muqarrabun (yang didekatkan) maupun dengan seorang Nabi yang diutus. Dalilnya adalah firman Allah –Subhanahu wa Ta'ala–:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

(Artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah keagungan Allah, maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamya di samping (menyembah) Allah.” {Quran Surah Al-Jin (72): 18}
  • Ketiga, barangsiapa yang taat kepada Rasul dan mentauhidkan Allah 'Azza wa Jalla, maka tidak boleh baginya mencintai orang yang memusuhi Allah 'Azza wa Jalla– dan Rasul-Nya, meskipun ia kerabat terdekatnya. Dalilnya yaitu firman Allah 'Azza wa Jalla:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 
(Artinya), “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun kelurga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungi-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” {Quran Surah Al-Mujadilah (58): 22}
________________________________________________________

Sumber:

Syarhu Ats-Tsalatsatil Ushul (judul asli: Syarh Ats-Tsalatsah Al-Ushul), Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimirahimahullah, cetakan IV Maktabah Al-Ghuroba.

Al-Quran Al-Karim, versi CHM, cetakan Kampung Sunnah.



Sebelumnya: [00] Pengantar Pembahasan, [01] Masalah yang Wajib Kita Ketahui 

Selanjutnya: [03] Al-Hanifiyah

[Tiga Landasan Pokok]: Masalah yang Wajib Kita Ketahui


Masalah yang wajib Kita Ketahui
________________________________________________________

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

(Dengan menyebut Nama Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

 

ATS-TSALATSAH AL-USHUL

(TIGA LANDASAN POKOK)

 

Ketahuilah –semoga Allah ­Subhanahu wa Ta'ala merahmatimu–! Bahwasanya wajib bagi kita untuk mengetahui empat perkara:

 

  • Pertama, ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.
  • Kedua, mengamalkannya.
  • Ketiga, berdakwah kepadanya.
  • Keempat, bersabar dalam menghadapi gangguan di dalamnya.

 

Dalilnya adalah firman Allah –Subhanahu wa Ta'ala–:


وَالْعَصْرِ

إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

(Artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan merugi. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan nasehat-menasehati agar mentaati kebenaran dan menasehati agar menetapi kesabaran.” {Quran Surah Al-Ashr (103): 1-4}

 

Berkata Asy-Syafi'i –rahimahullah–, “Kalau seandainya Allah –Subhanahu wa Ta'ala– tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya selain surat ini saja, niscaya sudah cukup bagi mereka.”

 

Dan berkata Al-Bukhari –rahimahullah–, “Bab Ilmu Sebelum Ucapan dan Perbuatan. Dalilnya yaitu firman Allah –Subhanahu wa Ta'ala–:

 

 ...فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

 

(Artinya), ‘Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (yang benar) melainkan Allah. Dan mohon ampunlah bagi dosamu...’ {Quran Surah Muhammad (47): 19}

 

Allah –'Azza wa Jalla– (dalam ayat ini) memulai dengan ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”

________________________________________________________

Sumber:

Syarhu Ats-Tsalatsatil Ushul (judul asli: Syarh Ats-Tsalatsah Al-Ushul), Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimirahimahullah, cetakan IV Maktabah Al-Ghuroba.

Al-Quran Al-Karim, versi CHM, cetakan Kampung Sunnah.


Sebelumnya: [01] Pengantar Pembahasan

Selanjutnya: [03] Tiga Masalah yang Wajib Diketahui oleh Setiap Muslim dan Muslimah

[Tiga Landasan Pokok]: Pengantar Pembahasan


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah –'Azza wa Jalla– semata, Rabb yang Maha Pencipta (yang menciptakan seluruh makhluk), Rabb yang yang Maha Menguasai seluruh makhluk dan Rabb yang Maha Mengatur segala urusan makhluk-Nya. Semoga shalawat dan salam salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi dan Rasul Allah -Subhanahu wa Ta'ala-, Nabi umat ini, Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam–, serta kepada para shahabatnya –radhiyallahu 'anhum ajma'in– dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan benar. Allahumma amin.

Al-Hamdu lillahi Ta'ala (segala puji hanya bagi Allah Ta'ala semata), yang telah melimpahkan kenikmatan-Nya. Dengan karunia dan kemudahan yang Allah –Subhanahu wa Ta'ala– berikan, kami berniat untuk menyadur ulang suatu pembahasan yang sangatlah penting bagi seluruh manusia, yang mana tulisan tersebut berisikan hal-hal yang haruslah kita ketahui, pahami dan imani dalam hati, sehingga melahirkan keislaman yang haq (benar) pada diri kita. 

Pembahasan tersebut kami ambil dari kitab Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Pokok) karya Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimi –rahimahullah–, yang kami bagi menjadi beberapa subjudul (sesuai dengan isi pembahasan yang ditulis Asy-Syaikh) agar memudahkan para pembaca sekalian dalam membaca dan memahaminya. Insya Allah Ta'ala.

Namun ada suatu hal yang perlu diketahui sebelumnya, yakni:
 
  1. Tulisan asli Syaikh Muhammad At-Tamimi –rahimahullah– kami letakkan diantara tanda (garis panjang) pada bagian awal (sebelum tulisan Asy-Syaikh) dan bagian akhir (setelah tulisan Asy-Syaikh)
  2. Jika perlu kami tambahkan beberapa kalimat sebagai keterangan, maka kami letakkan sebelum dan atau setelah pembahasan dari Asy-Syaikh, yakni sebelum dan atau setelah tanda (garis panjang).
  3. Hal tersebut kami lakukan untuk menjaga keautentikan (keaslian) tulisan Asy-Syaikh.

Demikianlah beberapa penjelasan dari kami. Semoga pembaca sekalian dapat memahaminya. Allahumma amin. 

Semoga Allah –'Azza wa Jalla– memberikan kemudahan kepada kita dalam menuntut ilmu Ad-Din Al-Islam (agama Islam) yang haq (benar), yang mana ilmu tersebut bersumber dari Allah –Subhanahu wa Ta'ala– dan Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam–, yang diikuti dan dipegang teguh oleh para sahabat –radhiyallahu 'anhum ajma'in–, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in –rahimahumullah–, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan benar. Allahumma amin.

Biografi Imam ash-Shan'ani (1059-1182 H)


MUHAMMAD BIN ISMA'IL ASH-SHAN'ANI

NAMA DAN NASABNYA
Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash-Shan'ani. Beliau dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, dan kemudian beliau pindah bersama ayahnya ke Kota Shan'a, ibukota Yaman.
Beliau menimba ilmu dari ulama yang berada di kota Shan'a, lalu kemudian beliau rihlah (melakukan perjalanan) ke Kota Makkah, dan membaca Hadits dihadapan para ulama besar yang ada di Makkah dan Madinah.
Beliau menguasai berbagai disiplin ilmu, sehingga beliau mengalahkan teman teman seangkatannya. Beliau menampakkan kesungguhannya, berhenti ketika ada dalil, jauh dari taklid dan tidak memperdulikan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya.
Beliau mendapatkan ujian, dan cobaan yang menimpa semua orang yang mengajak kepada kebenaran dan mendakwahkannya secara terang terangan pada masa masa penuh fitnah dari orang yang sezaman dengan beliau, Allah –Subhanahu wa Ta'ala– tela menjaga beliau dari makar mereka dan melindungi beliau dari kejelekan mereka.
Kahlifah Al-Manshur, yang termasuk penguasa Yaman, mempercayakan kepada beliau untuk memberikan khutbah di Masjid Jami Shan'a. Beliau terus-menerus menyebarkan ilmu dengan mengajar, memberi fatwa dan mengarang. Beliau tidak pernah takut terhadap celaan manusia ketika beliau berada dalam kebenaran, dan beliau tidak memperdulikan dalam menjalankan kebenaran akan ditimpa ujian, sebagaimana telah menimpa orang orang yang mengikhlaskan agama mereka untuk Allah. Beliau lebih mendahulukan kerihaan Allah di atas keridhaan manusia.
Sangat banyak orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang khusus maupun masyarakat umum, mereka membaca dihadapan beliau berbagai kitab kitab Hadits, dan mereka mengamalkan ijtihad ijtihad beliau serta menampakkannya kepada orang orang.
Beliau memiliki banyak karangan, diantara karangannya adalah:
- Subul As-Salam
- Minhatul Ghaffar
- Syarh At-Tanfih fi Ulum Al-Hadits, dan lain lain.
Beliau memiliki karangan-karangan yang lain, yang ditulis secara terpisah, yang seandainya dikumpulkan, maka akan menjadi berjilid-jilid.
Beliau memiliki syair yang fasih, dan tersusun rapi yang kebanyakan berisi tentang pembahasan-pembahasan ilmiah dan bantahan terhadap orang-orang di zaman beliau. Kesimpulannya, beliau adalah seorang ulama yang melakukan pembaharuan terhadap agama.
Beliau wafat pada hari ketiga bulan Sya'ban tahun 1182 H, pada umur beliau 123 tahun. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Amin.
[Sumber: Diterjemahkan dari Muqaddimah kitab Subul As-Salam (Disalin dari kitab That-hir Al-I'tiqad 'an Adran As-Syirki wa Al-Ilhad, karya Imam Ash-Shan'ani rahimahullah. Penerjemah: Abu Athiyyah As-Sorawaky. Muraja'ah: Ustadz Abu Abdirrahman Ibn Yunus. Penerbit: Gema Ilmu, 1427 H)]
___________________________________________________________
Sumber:


Disadur dari www.ahlulhadist.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.

Rabu, 28 Juli 2010

Biografi Imam as-Suyuthi (849-911 H)


ABU FADHL ABDURRAHMAN BIN ABU BAKAR AS-SUYUTHI

NAMA DAN NASABNYA
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin bin al-Fakhr Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddin Abu ash-Shalah Ayub bin Nashiruddin Muhammad bin Syaikh Hammamuddin al-Hamman al-Khadhari as-Suyuthi. Lahir ba'da Maghrib, hari Ahad malam, bulan Rajab tahun 849 H, yakni enam tahun sebelum ayah beliau wafat.
ASAL USUL BELIAU
Jalaluddin as-Suyuthi berasal dari lingkungan cendekiawan sejak kecilnya. Ayahnya berusaha mengarahkannya ke arah kelurusan dan keshalihan. Adalah beliau, hafal al-Quran di usianya yang sangat dini, dan selalu diikutkan ayahnya di berbagai majlis ilmu dan berbagai majlis qadhinya.
Dan ayahnya telah memintakan kepada Imam Ibnu Hajar al-Asqalani supaya mendoakannya diberi berkah dan taufiq. Dan adalah ayahnya, melihat dalam diri anaknya seperti yang didapati dalam diri Ibnu Hajar, hingga ketika beliau minum, sebagian diberikan kepada anaknya dan mendoakannya agar ia seperti Ibnu Hajar, menjadi ulama yang trampil dan tokoh penghafal (Hadits –ed.). Ayahnya wafat saat beliau (Imam as-Suyuthi –ed.) baru berumur lima tahun tujuh bulan. Tetapi, Allah telah memelihara beliau dengan taufiq dari-Nya dan mengasuh beliau dengan asuhan-Nya. Ini terbukti, dengan telah ditakdirkan Allah Ta'ala untuknya al-Allamah Kamaluddin bin Humam al-Hanafi, pengarang Fath al-Qadir, untuk menjadi guru asuhnya. Hingga hafal al-Quran dalam umur delapan tahun, kemudian menghafal kitab al-'Umdah, lalu Minhaj al-Fiqh dan Ushul, serta Alfiyah Ibn Malik. Dan mulai menyibukkan diri dengan (menggeluti –ed.) ilmu pada tahun 864 H, yakni ketika berumur 15 tahun.
Menimba ilmu fiqih dari Syaikh Sirajuddin al-Balqini. Bahkan, bermulazamah kepada beliau hingga wafatnya. Kemudian, bermulazamah kepada anak beliau, dan menyimak banyak pelajaran darinya, seperti al-Hawi ash-Shaghir, al-Minhaj, Syarh al-Minhaj dan ar-Raudhah. Belajar Faraidh dari Syaikh Sihabuddin asy-Syarmasahi, dan bermulazamah kepada asy-Syari al-Manawi Abaz Kuriya Yahya bin Muhammad, kakak dari Abdurrauf, pensyarah al-Jami' ash-Shaghir. Kemudian, menimba ilmu bahasa Arab dan ilmu Hadits kepada Taqiyuddin asy-Syamini al-Hanafi (872 H). Lalu bermulazamah kepada Syaikh Muhyiddin Muhammad bin Sulaiman ar-Rumi al-Hanafi selama 14 tahun. Darinya, beliau menimba ilmu Tafsir, ilmu Ushul, ilmu bahasa Arab dan ilmu Ma'ani. Juga, berguru kepada Jalaluddin al-Mahilli (864 H) dan Izz al-Kinani Ahmad bin Ibrahim al-Hanbali. Dan, membaca Shahih Muslim, asy-Syifa, Alfiyah Ibn Malik dan penjelasaannya pada Syamsu as-Sairami.
Imam as-Suyuthi tidak mau meninggalkan satu cabang ilmu pun, kecuali beliau berusaha untuk mempelajarinya, seperti ilmu hitung dan ilmu Faraidh dari Majid bin as-Siba' dan Abdul Aziz al-Waqai, serta ilmu kedokteran kepada Muhammad bin Ibrahim ad-Diwwani ar-Rumi. Hal ini sesuai dan didukung oleh keadaan waktu itu, di mana beliau dapat menimba ilmu dari banyak syaikh. Beliau tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, baik ilmu bahasa maupun ilmu din (agama –ed.), demikian pula beliau tidak merasa cukup dengan para ulama yang telah beliau temui.
Bahkan, beliau bepergian jauh sekedar untuk mencari ilmu dan riwayat Hadits, hingga ke negeri Maghribi (Tanjung Harapan, sebelah ujuh barat pulau Afrika), ke Yaman, India, Syam Mahallah (di Mesir Barat), Diimath (sebuah kota di tepi sungai Nil, Mesir) dan Fayyum (Mesir), serta negeri-negeri Islam lainnya. Telah menunaikan ibadah haji dan telah minum air zam-zam dengan harapan supaya dapat seperti Syaikh al-Balqini dalam menguasi ilmu Fiqih, serta dapat seperti Ibnu Hajar dalam menguasai ilmu Hadits.
Demikianlah imam yang mulia ini, mengadakan perjalanan yang tidak tanggung-tanggung dengan segala kesusahannya hanya untuk dapat menimba ilmu. Banyak sekali gurunya. Bahkan disebutkan oleh Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya'rani dalam kitab Thabaqat, bahwa guru beliau lebih dari 600-an orang.
Sesuai dengan banyaknya syaikh dan jauhnya perjalanan beliau dalam menimba ilmu, hal itu didukung pula oleh kemampuannya untuk semaksimal mungkin dalam memanfaatkan perpustakaan Madrasah Mahmudiyah. Berkata al-Maqrizi, bahwa di dalam perpustakaan ini terdapat segala jenis kitab-kitab Islam, dan madrasah ini merupakan sebaik-baik madrasah yang ada, yang dinisbatkan kepada Mahmud bin al-Astadar, yang berdirinya pada tahun 897 H. Dan, kitab-kitab yang ada tersebut merupakan kitab yang paling lengkap dari yang ada sekarang di Qahirah (Kairo), yang merupakan koleksi dari Burhan bin Jama'ah, dan kemudian dibeli oleh Mahmud al-Astadar dengan uang warisannya setelah ia wafat, dan kemudian ia waqafkan.
Hingga matanglah kepribadian as-Suyuthi, dan sempurnalah pembentukan ilmunya pada taraf syarat mampu untuk berijtihad. Beliau seorang yang mudah mengerti, kuat hafalannya, dianugerahi Allah dengan otak yang cerdas. Disamping itu, beliau adalah seorang yang 'abid (ahli ibadah), zuhud dan tawadhu, tidak mau menerima hadiah raja. Pernah beliau diberi hadiah raja Ghuri seorang budak perempuan dan uang banyak sebesar seribu dinar. Maka, dikembalikannya uang itu, sedangkan budak perempuan itu dimerdekakannya dan menjadikannya sebagai pelayan di hujrah Nabawi. Lalu beliau berkata kepada sang penguasa itu, “Jangan berusaha memalingkan hanya dengan memberi hadiah semacam itu, karena Allah telah menjadikan aku merasa tidak butuh dari hal-hal semacam itu.”
Oleh karena itu, beliau –rahimahullah– dikenal sebagai seorang yang berani tapi beradab, semangat dalam menegakkan hukum-hukum syariat dan mengamalkannya tanpa memihak kepada seorang pun. Tidak takut dalam kebenaran celaan orang yang mencela. Beliau telah diminta untuk memberikan fatwa serta urusan-urusan yang bersangkutan dengan kehakiman, maka beliau tetap berusaha untuk adil dan menerapkan hukum-hukum din (agama –ed.) tanpa memperdulikan kemarahan umara maupun penguasa. Bahkan, jika beliau melihat ada qadhi (hakim) yang mentakwilkan hukum sesuai dengan kehendak penguasa, bertujuan menjilat mereka, maka beliau menentangnya, dan menyatakan pengingkarannya, serta cuci tangan darinya, menerangkan kesalahannya dan meluruskannya, seperti yang dikemukakannya dalam kitab al-Istinshar bi al-Wahid al-Qahhar. Beliau terlalu disibukkan dengan memberi pelajaran dan berfatwa sampai umur 40 tahun, kemudian beliau lebih mengkhususkan untuk beribadah dan mengarang kitab. Dan, karangan Imam as-Suyuthi –rahimahullah– lebih dari 500 buah karangan. Berkata Imam as-Suyuthi, “Kalau seandainya aku mau, maka aku mampu untuk menyusun kitab yang membahas setiap masalah dengan segala teori dan dalil-dalil yang kami nukil, qiyasnya, keterangannya, bantahan-bantahannya, jawaban-jawabannya, muwazanahnya antara perselisihan berbagai mazhab tentang masalah itu, dengan fadhilah Allah, tidak dengan daya dan kemampuanku. Karena, sesungguhnya tidak ada kekuatan, kecuali dari Allah.”
KITAB-KITABNYA
Adapun kitab-kitab yang disusun oleh Imam as-Suyuthi –rahimahullah– antara lain sebagai berikut:
1.   Al-Itqaan fii 'Uluum al-Qur-an
2.   Ad-Durr al-Mantsuur fii at-Tafsiir al-Ma'tsuur
3.   Tarjumaan al-Qur-an fii at-Tafsiir
4.   Israaru at-Tanziil (atau dinamakan pula dengan Qathful Azhaar fii Kasyfil Asraar)
5.   Lubaab an-Nuqul fii Asbaab an-Nuzuul
6.   Mifhamaat al-Aqraan fii Mubhamaat al-Qur-an
7.   Al-Muhadzdzab fii ma Waqa'a fii al-Qur-an min al-Mu'arrab
8.   Al-Ikllil fii Istinbaath at-Tanziil
9.   Takmilatu Tafsiir asy-Sayikh Jalaaluddiin al-Mahillii
10.        At-Tahiir fii 'Uluum Tafsiir
11.        Haasyiyah 'ala Tafsii al-Baidlawii
12.        Tanaasuq ad-Durar fii Tanaasub as-Suwari
13.        Maraashid al-Mathaali fii Tanaasub al-Maqaathi' wa al-Mathaali'
14.        Majma' al-Bahrain wa Mathaali' al-Badrain fii at-Tafsir
15.        Mafaatih al-Ghaib fii at-Tafsiir
16.        Al-Azhaar al-Faa-ihah 'alaa al-Fatihah
17.        Syarh al-Isti'adzah wa al-Kasmalah
18.        Al-Kalaam 'alaa Awal al-Fath
19.        Syarh asy-Syathibiyyah
20.        Al-Alfiyah fii al-Qara'at al-'Asyri
21.        Khimaayal az-Zuhri fii Fadha-il as-Suwarii
22.        Fath al-Jalil li 'Abdi adz-Dzalil fii al-Anwa' al-Badi'ah al-Mustakhrijah min Qaulihi Ta'ala: Allaahu Waliyyulladziina aamanu
23.        Al-Qaul al-Fashih fii Ta'yiini adz-Dzabiih
24.        Al-Yadul Bustha fii ash-Shalaah al-Wustha
25.        Mu'tarak al-Aqraan fii musykilaah al-Qur-an
Semua itu judul-judul buku yang berkenaan dengan Tafsir, adapun yang berkenaan dengan ilmu Hadits, antara lain adalah sebagai berikut:
1.   'Ain al-Ishaabah fii Ma'rifat ash-Shahaabah
2.   Durr ash-Shahaabah fii man Dakhala Mishra min ash-Shahaabah
3.   Husnul Muhaadharah
4.   Riih an-Nisriin fii man 'Aasya min ash-Shahaabah Miata wa 'Isyriin
5.   Is'aaf al-Mubtha' bi Rijaal al-Muwaththa'
6.   Kasyf at-Talbiis 'an Qalbi Ahli Tadliis
7.   Taqriib al-Ghariib
8.   Al-Madraj ilaa al-Mudraj
9.   Tadzkirah al-Mu'tasi min Hadits man Haddatsa wa Nasiy
10.        Asmaa' al-Mudallisiin
11.        Al-Luma' fii Asmaa' man Wadha'
12.        Ar-Raudh al-Mukallal wa Warad al-Mu'allal fii al-Mushthalah
WAFATNYA
Imam as-Suyuthi –rahimahullah– wafat pada hari Jum'at malam tanggal 19 Jumadil Ula tahun 911 H. Sebelumnya, beliau menderita sakit selama tujuh hari, dan akhirnya wafat dalam umur 61 tahun. Dikuburkan di pemakaman Qaushuun atau Qaisun di Kairo.
[Sumber dari kitab Adriib ar-Raawi fii Syarh Taqriib an-Nawawii, karya as-Suyuthi.]
___________________________________________________________
Sumber:
Disadur dari www.ahlulhadist.wordpress.com, dengan sedikit perbaikan.
Ayat RENUNGKANLAH


Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu berîmân dan bertakwa (kepada Allâh), Allâh akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. [QS. Muhammad (47): 36]

Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan (Mukmin) perempuan ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan, yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allâh. [QS. al-Fath (48): 5]

Sesungguhnya orang-orang yang berîmân dan mengerjakan amal-amal saleh, dan merendahkan diri kepada Rabb mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga. Mereka kekal di dalamnya. [QS. Hûd (11): 23]

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam Surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). [QS. al-Hijr (15): 45]

Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. [QS. ar-Ra'd (13): 35]

Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). [QS. Yâsîn (36): 55]

Di Surga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. [QS. Yâsîn (36): 57]

(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allâh memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. [QS. an-Nahl (16): 31]

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka Surga Aden, mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. [QS. al-Kahfi (18): 31]

……………………………………………………………………

Barangsiapa mencari agama selain Islâm, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS. Âli 'Imrân (3): 85]

_______________________________________________________

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qurân? Kalau sekiranya al-Qurân itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [QS. an-Nisâ: 82]